Malam minggu membuat Alun-Alun Karanganyar terlihat seperti lautan manusia.
Lampu pedagang kaki lima menyala berjejer. Asap sate dan jagung bakar memenuhi udara. Musik dari panggung konser terdengar sampai beberapa jalan di sekitarnya.
Namun semua keramaian itu terasa jauh dari tempat Bagas duduk.
Ia berada di sudut sebuah kafe kecil tidak jauh dari alun-alun. Laptop terbuka di depannya. Kursor kosong berkedip di layar putih selama hampir dua puluh menit.
Tak ada satu kalimat pun yang berhasil ia tulis.
Segelas kopi mahal tinggal setengah. Pasta creamy di mejanya bahkan belum disentuh lagi sejak dingin.
Bagas menyandarkan tubuh ke kursi sambil mengusap wajahnya kasar.
Dompetnya tinggal cukup untuk hidup beberapa hari.
Namun ia tetap memesan makanan mahal.
Tetap duduk di tempat seperti ini.
Karena di kepalanya, penulis sukses memang hidup seperti itu.
Laptop. Kopi. Malam. Ide besar.
Masalahnya: ide besar itu tak pernah datang lagi.
Satu novel kemenangannya lima tahun lalu seperti kutukan.
Semua orang sempat memujinya.
Penerbit datang. Wawancara kecil muncul di media lokal. Namanya mulai dikenal.
Lalu semuanya berhenti.
Novel berikutnya gagal. Naskah berikutnya ditolak. Dan berikutnya lagi.
Dunia bergerak terlalu cepat meninggalkannya.
Sementara Bagas masih duduk di tempat yang sama, menunggu seseorang percaya tulisannya layak dibaca.
Pintu kafe terbuka.
Laras masuk sambil membawa tas kerja di pundaknya.
Bagas langsung tahu dari wajahnya.
Kabar buruk lagi.
Laras duduk di depan Bagas tanpa banyak bicara.
Tatapannya jatuh pada meja: kopi mahal, makanan mahal, dan layar kosong.
“Kamu bahkan belum nulis apa-apa?” tanyanya pelan.
Bagas tertawa hambar.
“Writer’s block.”
“Writer’s block nggak bikin rekeningmu tiba-tiba isi.”
Bagas menghela napas panjang.
Laras terlihat lelah malam itu.
Rambutnya sedikit berantakan. Matanya sayu setelah seharian bekerja di penerbitan.
Namun tetap saja, ia masih datang menemui Bagas.
Mungkin karena iba. Mungkin karena masih peduli.
Atau mungkin keduanya.
“Naskahmu ditolak lagi,” katanya akhirnya.
Sunyi beberapa detik.
Bagas menunduk pelan.
Lalu tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih mirip umpatan.
“Editor bilang apa sekarang?”
“Mereka bilang ceritamu bagus.” Laras berhenti sebentar. “Tapi nggak punya sesuatu yang baru.”
Bagas memejamkan mata.
Kalimat itu lagi.
Lagi.
Dan lagi.
Tidak baru.
Tidak menjual.
Tidak menarik pasar.
Ia muak mendengarnya.
“Orang-orang sekarang maunya apa sih?” gumamnya kesal. “Cerita receh viral? Horor murahan? Kisah sedih template?”