City of Zombies

Bramanditya
Chapter #6

Rumah Kedua


Subuh belum benar-benar datang ketika Samsul duduk sendiri di atas dak kosannya.

Udara dingin menggantung tipis di langit Karanganyar.

Dari tempat itu ia bisa melihat atap-atap rumah yang masih gelap, kabel listrik yang saling melintang, dan lampu jalan yang mulai redup dimakan pagi.

Dak itu sederhana.

Hanya lantai semen kasar tempat penghuni kos menjemur pakaian dan mencuci baju. Sebuah tandon air berdiri di sudut. Beberapa ember plastik tertiup angin kecil.

Samsul duduk di kursi pancing tua sambil memegang rokok.

Seekor anak kucing oren tidur melingkar di samping sandal jepitnya.

Earphone putih menggantung di telinganya. Sebuah lagu milik Hindia mengalun pelan di kepalanya.

Samsul mengisap rokok dalam-dalam.

Lalu menghembuskannya perlahan ke udara subuh.

Asapnya naik pelan. Menghilang bersama langit yang perlahan berubah abu-abu.

Kadang hidup terasa aneh baginya.

Tiga tahun lalu, ia masih berdiri di bawah rumah panggung kayu di Palembang sambil menggenggam sekop berlumpur.

Tangan gemetar.

Baju penuh darah.

Dan tubuh ayahnya terbaring diam di dekat rawa.

Malam itu hujan deras.

Ibunya menangis sambil memeluk dua adiknya.

Sementara Samsul menggali tanah dengan napas patah-patah.

Ayahnya mabuk lagi malam itu.

Memukul ibunya sampai bibir pecah. Membanting adiknya ke lantai.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Samsul membalas.

Ia tak pernah berniat membunuh.

Namun kepalanya terlalu penuh amarah.

Botol kaca. Benturan. Jeritan.

Lalu sunyi.

Besok paginya, ia meninggalkan Palembang tanpa menoleh lagi.

Datang ke Jawa membawa satu tas pakaian, beberapa lembar uang, dan dosa yang tak pernah selesai dikubur.

Samsul memejamkan mata.

Suara lagu masih berjalan pelan.

Kadang ia berpikir: manusia bisa lari sejauh apa pun, tapi masa lalu selalu tahu jalan pulang.

Anak kucing di sampingnya bergerak kecil.

Samsul tersenyum tipis lalu mengusap kepala hewan itu.

“Kamu enak ya,” gumamnya pelan. “Nggak punya dosa.”

Kucing itu mengeong kecil.

Samsul tertawa pelan.

Kucing itu milik Siti.

Atau lebih tepatnya, kucing titipan.

Karena setiap beberapa hari sekali gadis itu akan datang ke kos membawa makanan, lalu berkata:

“Tolong jagain dulu. Aku sibuk.”

Padahal Samsul tahu itu cuma alasan supaya bisa bertemu dirinya.

Langit mulai sedikit terang.

Dan ingatan siang tadi kembali perlahan di kepalanya.

Bengkel Abah Motor selalu ramai menjelang sore.

Suara mesin, bau oli, dan dentingan besi bercampur menjadi musik sehari-hari.

Samsul sedang berada di bawah mobil ketika suara klakson Jeep terdengar dari depan bengkel.

“Sul! Langgananmu datang!” teriak salah satu mekanik.

Samsul keluar sambil mengelap tangannya dengan kain.

Suherman turun dari Jeep hitam tuanya sambil tertawa lebar.

“Mobilku bunyi lagi ini. Kayaknya cuma kamu yang ngerti penyakitnya.”

Samsul tersenyum kecil.

“Coba saya cek dulu, Pak.”

Suherman adalah juragan ayam terbesar di daerah itu. Keras kepala. Banyak bicara. Namun sangat percaya pada Samsul.

Dan kepercayaan seperti itu mahal bagi seseorang seperti dirinya.

Abah keluar dari ruang kantor kecil bengkel sambil membawa kopi.

Pria tua berjanggut putih itu menepuk pundak Samsul.

Lihat selengkapnya