Subuh belum benar-benar lahir ketika Roni membuka matanya perlahan.
Kamarnya masih gelap.
Hanya cahaya lampu gang yang remang-remang masuk dari sela ventilasi kecil di atas pintu.
Bau parfum perempuan masih menggantung di udara.
Dan suara air dari kamar mandi baru saja berhenti.
Roni memejamkan mata lagi beberapa detik.
Kepalanya berat.
Bukan karena alkohol.
Ia sudah berhenti minum sejak masuk kepolisian.
Namun hidup tetap menemukan cara lain untuk membuat manusia mabuk.
Pintu kamar mandi terbuka pelan.
Seorang perempuan keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Tubuhnya masih dibalut handuk mandi putih tipis. Rambut hitamnya basah. Wajahnya polos tanpa banyak riasan.
Ia berjalan santai menuju kursi dekat meja kecil.
Tidak malu. Tidak juga intim.
Hanya terbiasa.
Perempuan itu membuka handuk perlahan lalu mengenakan bra dan celana dalamnya tanpa banyak bicara.
Roni hanya menatap langit-langit kamar.
Sunyi.
Hubungan seperti ini selalu aneh baginya.
Dua orang asing berbagi tubuh beberapa jam, lalu kembali menjadi siapa-siapa.
Perempuan itu mulai mengenakan bajunya.
Sesekali membenarkan rambut di depan cermin kecil retak.
Lalu menyemprotkan parfum murah ke lehernya.
Cktt.
Cktt.
Aroma manis menusuk hidung membuat Roni akhirnya duduk perlahan di kasur.
“Masih gelap,” gumamnya serak.
Perempuan itu tertawa kecil.
“Mumpung masih sepi, Mas.”
Roni berdiri sambil meraih celana yang tergantung di balik pintu.
Dompet kulit cokelatnya dibuka.
Beberapa lembar uang seratus ribu ia keluarkan tanpa menghitung.
Perempuan itu menerimanya cepat.
“Terima kasih.”
“Kosmu jauh?”
“Nggak.” Ia tersenyum kecil. “Dekat sini.”
Roni mengangguk pelan.
“Namamu siapa tadi?”
Perempuan itu diam sebentar.
Lalu menjawab sambil memakai jam tangannya.
“Asmara.”
Roni tahu itu mungkin bukan nama asli.
Namun ia tidak peduli.
Nama-nama palsu lebih mudah dilupakan.
Perempuan itu sudah siap pergi ketika Roni membukakan pintu kamar.
Mereka berjalan melewati lorong kos yang sunyi.
Lampu kuning kecil di dekat dapur bersama berkedip-kedip lemah.
Gerbang besi dibuka pelan.
Udara subuh menyentuh wajah mereka.
Sebelum pergi, Amanda menoleh sambil tersenyum kecil.
“Simpan nomor aku ya, Mas.”
Roni hanya membalas dengan senyum tipis.
Lalu menutup gerbang perlahan.