City of Zombies

Bramanditya
Chapter #8

Terjebak


Subuh terasa terlalu sunyi.

Bukan sunyi yang menenangkan.

Tetapi sunyi yang membuat dada sesak, seolah seluruh kota sedang menahan napas bersama-sama.

Andre berdiri di depan pintu gerbang kos dengan wajah tegang.

Tangannya sudah menggenggam gagang pintu besi kecil di samping gerbang utama.

Ponselnya sejak tadi terus dicoba untuk menghubungi seseorang.

Tidak terhubung.

Pesan dari Dini masih terbuka di layar.


Pesan

Tolong aku.

Jangan kesini.

Cari bantuan.



Namun bagaimana mungkin ia tidak pergi?

Dini berada di rumah sakit.

Sendirian.

Mungkin terluka.

Mungkin ketakutan.

Dan Andre merasa dirinya pengecut karena berdiri diam di sini sementara orang yang dicintainya mungkin sedang meminta tolong.

Ia menarik napas panjang.

Tangannya mulai menekan gagang pintu.

Tiba-tiba—

Seseorang menarik tubuhnya keras ke belakang.

Bruk!

Andre nyaris berteriak sebelum sebuah tangan membekap mulutnya kuat-kuat.

“Diam!”

Suara Samsul terdengar bergetar.

Andre membelalakkan mata.

Samsul menunjuk pelan ke arah celah kecil di atas gerbang besi.

Lubang ventilasi selebar satu meter itu memperlihatkan sedikit jalan gang di luar.

Dan saat Andre melihat keluar—

Darahnya terasa membeku.

Beberapa orang berjalan melewati depan gang.

Atau… mungkin bukan berjalan.

Gerakan mereka aneh.

Pincang. Terseret. Tubuh condong seperti kehilangan keseimbangan.

Salah satu dari mereka menabrak tembok gang pelan, lalu terus berjalan seperti tidak merasakan apa-apa.

Suara aneh keluar dari tenggorokan mereka.

Bukan suara manusia normal.

Lebih seperti: orang yang tenggelam sambil mencoba bernapas.

Krrkhh…

Khhkk…

Andre menahan napas.

Samsul masih membekap mulutnya.

Tidak ada yang bergerak.

Tidak ada yang berani bicara.

Bahkan suara napas terasa terlalu keras.

Salah satu sosok berhenti tepat di depan gerbang kos mereka.

Diam.

Kepalanya menunduk aneh.

Darah mengering terlihat di bagian lehernya.

Andre bisa mencium sesuatu dari celah udara.

Bau anyir.

Busuk.

Sosok itu perlahan mengangkat kepalanya.

Mata merah.

Kosong.

Lihat selengkapnya