City of Zombies

Bramanditya
Chapter #9

Neraka

Tangga menuju dak terasa sempit.

Dan mendadak menyesakkan.

Samsul berjalan paling depan sambil menoleh cepat ke bawah.

“Pelan.”

Suara rendahnya hampir seperti bisikan.

Tomo mengikuti di belakang dengan napas berat. Luka-luka di wajahnya mulai mengering. Namun matanya masih terlihat kosong.

Sebelum sampai atas, Samsul tiba-tiba berhenti di tengah tangga.

Ia menoleh cepat ke arah mereka.

“HP.”

Semua bingung.

“Mode getar. Jangan ada suara.”

Nada bicaranya membuat mereka refleks menurut.

Andre segera membuka ponselnya. Roni melakukan hal yang sama.

Sementara Bagas mendecih kecil.

“Lebay.”

Namun tetap mengeluarkan ponselnya.

Beberapa detik kemudian, raut wajah mereka perlahan berubah.

Tidak ada sinyal.

Sama sekali.

Andre mengangkat ponselnya lebih tinggi.

Roni berpindah posisi beberapa langkah.

Tetap kosong.

No Service.

“Jaringan down?” gumam Andre pelan.

Bagas tertawa kecil hambar.

“Selamat. Kiamat digital.”

Tidak ada yang membalas.

Karena untuk pertama kalinya, mereka mulai merasa benar-benar terputus dari dunia luar.

Samsul kembali berjalan.

Mereka akhirnya sampai di atas dak.

Udara subuh menusuk dingin.

Langit mulai berubah biru pucat.

Dan kota…

terlihat terlalu normal.

Mereka jongkok pelan di dekat bibir dak.

Mengintip hati-hati ke arah jalan.

Lengang.

Tidak ada kendaraan.

Tidak ada pedagang.

Tidak ada suara orang berangkat kerja.

Hanya jalan kosong yang terasa mati.

Beberapa sandal tergeletak di dekat gang.

Sebuah motor terparkir miring.

Dan pintu rumah-rumah tertutup rapat.

Andre mengernyit.

“Kamu yakin lihat sesuatu tadi?”

Samsul tidak menjawab.

Bagas mendecih lagi.

“Aku serius ya… kalau ini prank, sumpah nggak lucu.”

Tomo hanya diam.

Tatapannya terus mengarah ke jalan besar di ujung gang.

Seolah takut sesuatu muncul dari sana.

Roni mulai berdiri.

“Aku turun aja cek—”

BZZZZTTT.

Semua ponsel bergetar bersamaan.

Mereka refleks kaget.

Namun satu suara lain mendadak memecah kesunyian.

TING TING!

Nada notifikasi keras dari ponsel Bagas.

Semua langsung menoleh tajam.

“Matiin!”

Bisikan Tomo terdengar nyaris marah.

Bagas panik.

“Iya iya!”

Tangannya gemetar saat mematikan suara ponselnya cepat-cepat.

Mereka semua membeku.

Menunggu.

Tidak ada yang bicara.

Tidak ada yang bergerak.

Samsul perlahan mengintip kembali ke bawah.

Kosong.

Namun ketegangan tetap menempel di dada mereka seperti batu.

Dan saat itulah—

BRAKK!!

Suara keras mendadak terdengar dari rumah tetangga di samping kos.

Semua refleks menoleh.

Rumah kayu tua itu hanya berjarak dua meter dari dak kos mereka.

Sebuah suara perempuan menjerit.

Lalu suara benda jatuh.

Mereka mengintip pelan dari atas.

Dan dunia mereka berubah.

Seorang pria terlempar menghantam dinding kayu rumah sampai jebol.

Tubuhnya jatuh keras ke lantai.

Di atasnya— sesuatu menerkam.

Menggigit lehernya brutal.

Pria itu menjerit sambil meronta.

Darah menyembur ke dinding kayu.

Andre langsung menutup mulutnya sendiri.

Tubuh pria itu sudah penuh luka cakaran.

Sementara sosok di atasnya terus menggigit seperti binatang kelaparan.

“Ya Tuhan…”

Suara Roni nyaris tak terdengar.

Seorang perempuan keluar dari dalam rumah sambil menangis histeris.

“MAS!”

Ia mencoba menarik tubuh suaminya.

Namun sosok itu langsung berbalik cepat.

Gerakannya tidak manusiawi.

Lalu menerkam perempuan itu hingga jatuh.

Jeritan perempuan itu memecah pagi.

Samsul memejamkan mata sesaat.

Tomo memalingkan wajah.

Lihat selengkapnya