City of Zombies

Bramanditya
Chapter #10

Rencana 1 : Bertahan


Mereka duduk melingkar di lantai lorong kos yang sempit.

Tidak ada yang benar-benar tenang.

Sesekali mata mereka menoleh ke arah gerbang besi di ujung lorong seolah benda itu bisa jebol kapan saja.

Dari luar masih terdengar suara-suara yang membuat perut terasa dingin.

Jeritan.

Orang menangis.

Motor jatuh.

Anjing menggonggong tanpa henti.

Dan yang paling mengerikan…

suara tenggorokan makhluk-makhluk itu.

Krrhhh…

Khkkk…

Seperti orang tersedak darah sambil mencoba berbicara.

Tidak ada yang sanggup terbiasa mendengarnya.

Andre duduk bersandar di tembok dengan wajah pucat. Rambutnya berantakan. Matanya merah karena kurang tidur dan panik yang perlahan menggerogoti kepalanya.

“Jadi kita cuma akan diam di sini?” tanyanya pelan.

Tidak ada yang menjawab.

Andre tertawa kecil.

Tertawa frustrasi.

“Menunggu bantuan pemerintah datang?”

“Itu pilihan terbaik,” sahut Bagas cepat.

BRAKK!!

Suara kaca pecah terdengar dari arah gang depan.

Semua refleks diam.

Napas mereka tertahan beberapa detik.

Lalu suara langkah berlari.

Cepat.

Disusul jeritan seseorang.

“TOLONG! TOLO—”

Jeritan itu mendadak berhenti.

Digantikan suara kunyahan basah yang membuat Samsul menunduk menahan mual.

Sunyi kembali memenuhi lorong.

Namun sunyi itu justru terasa lebih mengerikan.

Tomo mengusap wajahnya kasar sebelum menatap Roni.

“Menurutmu gimana?”

Roni mengangkat wajah perlahan.

“Kenapa pendapatku penting?”

Nada suaranya sedikit tersinggung.

Samsul cepat menengahi.

“Mungkin karena kamu polisi.”

Roni terdiam.

Rahangnya mengeras.

Pikirannya kembali pada pesan singkat dari Pak Hendrik.

Tinggalkan kota. 2x24 jam.

Kalimat itu terus berputar di kepalanya seperti alarm.

Namun ia belum siap mengatakan apa pun.

Belum siap membuat semua orang panik.

“Aku juga nggak tahu,” jawabnya akhirnya.

Lihat selengkapnya