City of Zombies

Bramanditya
Chapter #11

Rencana 2 : Mencari Jawaban


Tidak ada yang benar-benar berbicara selama beberapa menit setelah video milik Bagas selesai diputar.

Mereka hanya duduk.

Mendengarkan kota yang perlahan mati.

Dari luar masih terdengar suara-suara yang tidak ingin mereka dengar.

Jeritan.

Tangisan.

Suara benda jatuh.

Kadang gonggongan anjing.

Kadang suara tenggorokan makhluk-makhluk itu yang terdengar seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai.

Krrhhh...

Khkkk...

Andre berdiri lebih dulu.

Tidak berkata apa-apa.

Ia masuk ke kamarnya.

Semua memperhatikannya dengan heran.

Beberapa saat kemudian ia keluar membawa sebuah ransel.

Ia berjalan ke dapur.

Membuka lemari.

Mengambil botol minum.

Beberapa bungkus roti.

Obat-obatan seadanya.

Lalu meraih sebuah teflon besar yang tergantung di dinding.

Teflon itu cukup tebal.

Cukup keras.

Mungkin tidak bisa membunuh siapa pun.

Tapi setidaknya bisa membuatnya bertahan hidup beberapa detik lebih lama.

Andre memasukkan napas panjang.

Lalu menatap mereka satu per satu.

"Sudah dua jam."

Tidak ada yang menyahut.

"Dan tidak ada perkembangan apa pun."

Suara Andre tenang.

Terlalu tenang.

"Aku akan ke rumah sakit."

Semua menoleh.

"Aku akan menemukan Dini."

Ia mengencangkan tali ranselnya.

"Dan mungkin... kita akan menemukan jawaban."

Bagas mendecih.

Ia berdiri sambil menyilangkan tangan.

"Memangnya kalau kamu sudah menemukan jawaban, terus kita bisa apa?"

Andre menatapnya.

Lama.

"Aku tidak tahu."

Hening.

"Tapi paling tidak..."

Andre tersenyum tipis.

Senyum yang lebih mirip luka.

"...aku sudah menyelamatkan orang yang aku cintai."

Bagas langsung membalas.

"Dan kalau dia sudah mati?"

Sunyi.

Kalimat itu jatuh seperti batu.

Andre menegang.

Rahangnya mengeras.

Untuk sesaat Tomo yakin Andre akan menghantam wajah Bagas dengan teflon yang masih digenggamnya.

Namun Andre hanya menarik napas panjang.

Mencoba menelan amarahnya.

"Itu tetap lebih baik daripada duduk di sini dan tidak melakukan apa-apa."

"Itu misi bunuh diri."

"Bisa jadi."

"Bodoh."

Andre tidak menjawab lagi.

Ia berjalan menuju pintu gerbang.

Langkahnya mantap.

Namun sebelum tangannya menyentuh pengunci pintu—

"Tunggu."

Suara itu datang dari belakang.

Roni.

Lihat selengkapnya