"Om, boleh minta tolong!?"
Laras memberanikan diri menghadang langkah seorang pria itu. Bibirnya menyunggingkan senyum, memperlihatkan deretan gigi putihnya seraya mengerjapkan matanya dua kali. Tanpa ragu, ia langsung menarik ujung dasi pria tersebut dan menciumnya tepat di depan banyak orang.
Demi uang sebesar lima puluh juta rupiah, ia rela melakukan tindakan yang sangat tidak masuk akal dan terasa gila. Mencium seorang lelaki asing yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Dan, semua kisah ini bermula dari...
*
*
Larasati Putri Anjani, gadis berusia 22 tahun itu baru saja selesai mengantarkan pesanan ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Laras langsung duduk di jok motor hitam yang bodi penuh bergambar ayam. Kedua tangannya bertumpu pada bagian depan motor, lalu ia menghela napas panjang sebelum akhirnya membuka pesan tersebut.
"Ingat! Bawa pacar masing-masing."
Tak lama, pesan lain muncul di layar.
"Ya iyalah bawa pacar masing-masing. Masa iya bawa pacar orang."
Dengan helm berbentuk kepala ayam berwarna putih yang sedang ia kenakan, Laras hanya membaca satu per satu pesan di grup itu tanpa berani membalas apa pun.
"Maju salah, mundur pun salah," gerutu Laras dalam hati.
"Pelopor ide kemana nih? Kok gak muncul-muncul?"
"Jangan-jangan pacarnya sudah digondol pelakor?"
Laras kembali menatap layar, membaca rangkaian kalimat yang terasa seperti ejekan tertuju padanya.
"Gak mungkinlah, Kevin kan sayang banget sama Laras."
Sedikit senyum terulas di bibirnya saat ada teman yang membela. Namun harapan itu tak bertahan lama.
"Tapi kalau si Kevin sampai kelilipan, ya enggak ada yang mustahil."
"Sialan Ola!" umpatnya dalam hati. Tadi sempat merasa lega karena pesan pertama Ola membela dirinya, tapi pesan kedua itu seolah menjatuhkan Laras kembali ke dasar. "Dasar teman enggak punya akhlak."
"Arrggghhh!!" Laras menjedotkan kepalanya perlahan ke bagian depan motor. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak akan pernah melontarkan ide gila yang kini justru membuat dirinya sendiri pusing tujuh keliling.
Beberapa hari lalu, dengan penuh percaya diri ia mengusulkan agar saat reuni nanti, setiap orang harus membawa pasangan masing-masing.
Namun nasib berkata lain. Kevin, pacarnya yang sudah menjalin hubungan hampir dua tahun, justru ketahuan berselingkuh. Lelaki itu tertangkap basah sedang bermesraan di dalam mobil sampai kendaraannya berguncang hebat, seolah diguncang gempa berkekuatan 8 SR.
Yang lebih menyakitkan, saat Laras memutuskan hubungan, pria itu malah menantangnya. "Oke kalau mau putus. Memangnya kamu sanggup bertahan berapa lama tanpa aku? Aku yakin sebelum 24 jam, kamu pasti sudah minta balikan lagi. Dan saat itu tiba, tanganku akan selalu terbuka menerimamu apa adanya."
Laras mengembuskan napas kasar. Sudah lebih dari 24 jam berlalu sejak ia mengakhiri hubungan kemarin. "Aku tidak akan pernah menemui Kevin lagi. Nanti dia malah makin besar kepala. Terlalu sering dimaafkan bikin dia jadi tak tahu diri," gumamnya, mengingat kembali ucapan mantan pacarnya itu.
Tapi masalahnya, jika ia datang tanpa membawa pasangan, ia tak tahu ejekan atau perlakuan apa lagi yang menantinya di kafe tempat reuni berlangsung hari ini.
Ting!
Di waktu yang bersamaan, sebuah pesan dari pelanggan masuk ke ponselnya. Laras membaca pesan itu, membalasnya sebentar, lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku jaket putih yang dikenakannya.
"Au ah!! Lebih baik fokus cari uang saja. Ingat, ada adikmu yang menjadi tanggung jawabmu sekarang," gumam Laras untuk meneguhkan hatinya sendiri.
Ia membenarkan posisi helm yang terpasang di kepalanya. Daripada memikirkan reuni dan mantan pacar yang tidak memberi solusi apa pun, lebih baik ia memikirkan cara mengumpulkan uang. Baginya, uang saat ini berada di urutan teratas, bahkan mengalahkan urusan percintaan sekalipun.
Motor Laras melesat cukup kencang untuk menyelesaikan pesanan terakhirnya sebagai pengantar makanan. Tak lama kemudian, ia menghentikan kendaraannya tepat di pusat kota, di depan sebuah gedung perkantoran tempat pelanggannya menunggu.
"Eh! Awas!!"
Namun, saat Laras hendak turun dari motor, langkahnya terhenti seketika. Tepat di hadapannya, sebuah insiden hampir terjadi.
Sebuah motor tua yang membawa keranjang besar di bagian belakangnya tiba-tiba oleng, setelah sebuah mobil sedan mewah memotong jalur secara tiba-tiba tanpa memberi isyarat. Pengendara motor itu terkejut dan langsung mengerem mendadak hingga terjatuh ke atas aspal. Keranjang di belakangnya terbalik, membuat sayur-mayur yang dibawanya berserakan di sepanjang jalan.
"Hei! Bisa nyetir nggak sih?" bentak pengemudi mobil mewah itu sambil turun dari kendaraannya dengan wajah memerah, seolah dialah pihak yang paling dirugikan.
Orang-orang di sekitar mulai berkerumun, dan arus lalu lintas di belakang mobil itu pun langsung terhenti. Sementara itu, dari arah berlawanan, Laras masih duduk di atas motor dengan mata terbelalak mendengar makian yang dilontarkan pria itu kepada pengendara motor tua.
Begitu melihat bapak tua itu berusaha bangkit sambil berkali-kali meminta maaf, Laras segera turun dan melangkah mendekat.
"Pak, Bapak tidak apa-apa?" tanya Laras seraya membantu bapak itu duduk di pinggir trotoar.
"Bapak ini nyerempet mobil saya! Lihat ini, spion saya sampai lecet!" Belum sempat bapak itu menjawab, pria pemilik mobil sudah menghardik dengan nada tinggi.
Laras berbalik, berdiri tegak, lalu menatap tajam pria yang sedang meluapkan amarahnya itu.