Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #1

Di Antara Dua Laki-laki

Clarissa menulis kalimat itu di ponselnya saat hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, lampu-lampu kendaraan memantul seperti garis-garis cahaya yang gugup. Ia duduk di sudut kafe kecil, sendirian, dengan secangkir kopi yang sudah dingin.

"Wis gede kan? Golek’o sing sepadan…"

Ia berhenti sejenak. Jempolnya menggantung di udara, seperti ragu apakah kalimat berikutnya perlu dituliskan atau cukup disimpan di dada. Clarissa menghela napas, lalu melanjutkan.

Ia tidak sedang marah. Tidak juga sedang sedih dengan cara yang dramatis. Ia hanya lelah. Lelah menjadi orang yang selalu merasa harus mengerti lebih dulu. Lelah menyusun alasan demi alasan untuk orang lain. Lelah berpikir bahwa ketulusan, kalau dijaga cukup lama, akan berubah menjadi sesuatu yang adil.

Padahal tidak selalu begitu.

Di meja seberang, Gloria baru datang. Rambutnya masih setengah basah, jaket tipisnya tergantung di kursi. Ia tersenyum kecil. Sungguh sebuah senyum yang belakangan ini sering terlihat. Di mata Clarissa, itu seperti senyum orang yang menyimpan rahasia, atau mungkin kebingungan.

“Kamu dari tadi nulis apa?” tanya Gloria sambil duduk.

Clarissa mengunci layar ponselnya. “Cuma catatan,” jawabnya. “Buat diri sendiri aja kok, Glo.”

Gloria mengangguk, tapi matanya memindai wajah Clarissa, seperti mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. Mereka berteman sudah lama. Terlalu lama untuk tidak tahu ketika yang satu sedang menahan sesuatu.

“Aku ketemu Takeshi lagi,” kata Gloria tiba-tiba, seolah-olah topik itu muncul begitu saja.

Clarissa mengangkat alis. Takeshi. Nama itu selalu terdengar seperti potongan lagu lama. Yang tidak pernah benar-benar hilang, tapi juga tidak pernah selesai. Cowok dengan tatapan tenang, tutur kata rapi, dan jarak yang selalu terjaga. Misterius dengan cara yang membuat orang penasaran, bukan takut.

“Oh ya?” Clarissa menjaga suaranya tetap netral.

“Iya. Kami ngobrol sebentar, dan itu soal hal-hal biasa,” Gloria mengaduk kopinya pelan. “Tapi rasanya… aku terus mikir, Rissa. Aku ini ngejar dia, atau cuma ngejar bayangan soal dia?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Clarissa tidak langsung menjawab. Ia teringat kalimat yang tadi ia ketik, lalu hapus, lalu ketik lagi.

"Ojo golek pasien..."

“Kadang,” kata Clarissa pelan, “kita tertarik sama orang bukan karena dia cocok, tapi karena kita merasa bisa, atau malah harus, memahami orang itu, Glo.”

Gloria tersenyum kecut. “Apa kamu mau bilang aku lagi nyari orang buat diselametin?”

“Aku bilang,” Clarissa menatapnya lembut, “jangan sampai kamu lupa nanya, apa dia mau diselametin atau nggak.”

Gloria terdiam.

Nama lain tiba-tiba muncul di benak mereka berdua, meski tidak diucapkan. Orang itu adalah Firman Lubis. Cowok yang beberapa bulan terakhir menjadi bahan bisik-bisik secara intens. Terlalu intens, malah. Cowok aneh bin gila, yang sering kirim pesan yang panjang-panjang ke Gloria. Laki-laki yang memiliki pikiran yang melompat-lompat. Emosinya Fiemo sulit ditebak. Ada yang bilang dia jenius, ada yang bilang dia berbahaya saking tak warasnya. Ada juga yang bilang dia hanya kesepian. Konon teman-temannya Firman hanya orang-orang yang itu-itu saja.

Lihat selengkapnya