Firman berhenti tepat di depan deretan ruko Pasar Delapan ketika roda sepedanya menggesek garis kuning yang memudar. Malam belum terlalu larut, tapi kawasan itu sudah setengah kosong. Apalagi lampu-lampu toko sebagian mati, sebagian lagi menyala setengah hati, yang seperti hatinya yang sedang dibingungkan oleh Gloria, Tania, dan beberapa perempuan yang oleh beberapa temannya, tidak layak untuk dirinya. Ia lalu menurunkan kaki, menyandarkan sepeda, setelahnya menatap ponselnya tanpa benar-benar melihat apa pun.
Nama Gloria masih ada di layar, tak terkirim, tak terhapus. Draft pesan yang sudah ia ketik berulang kali, dirombak, dipersingkat, lalu dipanjangkan lagi. Kalimat-kalimatnya berputar-putar di tempat yang sama. Seolah mereka ingin terdengar tulus, dimengerti, pun ingin dianggap perlu, dan itu tanpa terlihat memohon-mohon. Ia tahu itu seperti sebuah paradoks, tapi ia tetap merasa ingin terus mencobanya. Meski itu terasa mustahil.
“Mas.”
Suara itu datang dari samping, datar dan tegas. Firman menoleh. Seorang satpam berdiri dua langkah darinya, berseragam biru tua, rompi reflektif menggantung di dada. Wajahnya biasa saja, seperti kebanyakan orang yang terlalu sering melihat drama kecil di ruang publik.
“Sepedanya dipinggirin, Mas. Jangan nutup jalan.”
Firman mengangguk cepat. "Maaf.”
Segera Firman menggeser sepedanya beberapa sentimeter, cukup untuk patuh, tidak cukup untuk benar-benar pergi. Tangannya gemetar sedikit saat memegang setang. Satpam itu belum pergi. Ia berdiri, menatap Firman dengan tatapan yang bukan menghakimi, tapi juga bukan acuh.
“Sering nongkrong di sini?” tanya satpam itu, tiba-tiba.
“Kadang,” jawab Firman. Ia tidak menambahkan apa pun. Kata-kata terasa berat malam itu.
Satpam itu mengangguk pelan, seolah menyimpan kesimpulan sendiri. “Gue sering liat lo. Sendirian aja sambil main hape lama. Kadang senyum sendiri kayak ODGJ. Kadang bengong kayak orang depresi.”
Firman tersenyum kaku. “Kebiasaan aja, Mas.”
Hening jatuh sebentar. Angin membawa bau gorengan dari ujung jalan. Satpam itu menghela napas, lalu berkata dengan nada yang berubah. Suaranya sontak menjadi lebih rendah dan manusiawi.