Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #4

Gloria Panik, Firman Anteng

Ponsel Gloria bergetar pelan di tangannya. Sinyal di Bukit Doa Immanuel tidak selalu stabil, tapi cukup untuk membuat notifikasi WhatsApp masuk dengan jeda yang kadang menyebalkan. Ia duduk di bangku kayu panjang, menghadap lereng hijau yang basah oleh embun sore. Udara Pasuruan dingin dan bersih, berbeda jauh dari kepalanya yang sedang riuh.

Ia membuka Instagram. Atau tepatnya, mencoba membukanya dari akun pribadinya. Nama Firman tidak muncul. Pencariannya kosong. Jantungnya berdegup kecil, lalu lebih cepat.

Diblokir, ternyata. Akun Instagram Gloria diblokir Firman tanpa alasan yang jelas.

Gloria menutup aplikasi itu pelan, seolah takut suara kliknya terdengar oleh Tuhan yang sedang ia cari-cari sejak pagi. Ia membuka WhatsApp, mengetik nama Clarissa. Di Story, sahabatnya itu--yang pernah sama-sama di grup idola--sedang menampilkan sawah Wonogiri yang hijau, langit cerah, dan senyum tipis yang selalu terasa tenang.

Tulis Gloria ke Clarissa: "Clara… Firman ngeblok aku di IG, masa?"

Clara adalah nama panggilan Gloria untuk Clarissa

Titik-titik abu-abu muncul, lalu menghilang. Mungkin Clarissa sedang di perjalanan, atau sinyalnya hilang di antara perbukitan. Gloria menatap layar, lalu mengetik lagi.

"Aku nggak ngejar. Nggak nanya macem-macem ke dia. Nggak ngapa-ngapain dia. Tiba-tiba aja, dia blokir aku. Aneh banget sih dia!"

Ia menghela napas, memandang salib kayu besar di kejauhan. Bukit Doa Immanuel biasanya membuat orang merasa kecil dengan cara yang menenangkan. Namun sore itu, kecil terasa seperti rapuh.

Di Wonogiri, Clarissa baru saja selesai bermain dengan anjing kesayangannya, Timmy, seekor Golden Retriever. Liburannya Clarissa sederhana saja. Ia hanya bangun pagi, menyapu halaman, minum teh panas di sore hari sambil mendengar cerita-cerita lama yang tak pernah benar-benar habis dari ibunya, Bu Catharina. Ia melihat pesan Gloria saat duduk di kursi bambu, sambil kakinya diselonjorkan, dan punggungnya bersandar ke dinding yang hangat oleh matahari.

Ia membaca pesan itu dua kali. Tidak terkejut sama sekali. Hanya mengangguk kecil, seperti orang yang sudah menduga hujan akan turun.

"Tarik napas dulu, Glo."

Ia berhenti mengetik, menimbang kata. Clarissa tahu, setiap kata yang salah tempat bisa berubah jadi api.

"Kamu tahu, nggak, Glo? Blokir itu kadang bukan hukuman. Kadang cuma cara orang jaga dirinya sendiri, meski caranya aneh, kayak yang kamu omongin tadi ke aku."

Lihat selengkapnya