Di suatu tempat di kota Wonogiri yang sungguh menenangkan batin. Duduk bersila seorang penyanyi muda bernama Clarissa di lantai ruang tamu. Clarissa mengenaka daster orennya yang agak berbau bumbu dapur. Timmy, seekor Golden Retriever yang kini usianya nyaris sepuluh tahun, berguling dengan malas, sambil lidahnya terjulur, dan mata cokelatnya berbinar seperti anak kecil yang tahu ia sedang dicintai. Sejak Clarissa masih SMA, Timmy selalu ada. Saat pulang sekolah dengan wajah kusut, saat kali pertama lolos audisi, saat dapat gaji pertamanya dari grup idola tersebut, dan sekarang, saat ia sendiri tak tahu perasaannya sedang menuju ke mana. Ia tak yakin, apakah benar-benar mencintai laki-laki aneh bin tak waras tersebut.
“Timmy,” gumam Clarissa sambil mengusap perut anjing itu, “aneh ya… kadang aku rasa, hidup tuh kayak lagi muter-muter di kepala aja.”
Timmy mengibaskan ekornya, menghantam lantai dengan bunyi thump-thump yang ritmis, seolah menyetujui apa pun yang akan keluar dari mulut majikannya.
Clarissa tertawa kecil. “Aku kenal cowok gitu, Timmy. Cuma tahu dari orang-orang di fans base aku."
Sebentar Clarissa menghela napas untuk mengikat rambutnya. "Namanya Firman. Dan, diliat-liat, dia nggak jelek juga. Eh, tapi masih gantengan Kak Aziz, sih.”
Timmy mendongak, kepalanya miring. Clarissa menahan senyum, dan melanjutkan kata-katanya, “Kamu ngerti kan maksudku? Bukan soal tampang doang.”
Sekali lagi Clarissa menghela napas. “Dia tuh… gimana ya... kayak orang yang kebanyakan mikir. Matanya sering kosong, tapi kalo lagi cerita di beberapa video YouTube-nya, matanya kayak hidup gitu. Ada, kali, cowok kayak dia, Timmy!?"
Timmy menjilat tangan Clarissa, lalu rebahan lagi, nyaman di pelukan Clarissa. Clarissa menatap langit-langit. Ia teringat dengan video Firman beberapa bulan lalu. Cara Firman memilih kata, cara laki-laki aneh itu tertawa, yang di benak Clarissa, seperti tertahan, seolah takut terlalu berisik di dunia yang tidak memberinya panggung untuk bersaing secara sehat.
“Aku nggak tahu dia suka aku atau nggak,” lanjut Clarissa, suaranya merendah. “Tapi aku ngerasa dia lagi berantem sama sesuatu di kepalanya sendiri. Aku takut cuma jadi persinggahannya doang.”
Timmy mendengus pelan. Clarissa mengelus telinga Timmy, ingat betul bagaimana anjing ini selalu ada tanpa syarat. “Enak ya jadi kamu. Nggak perlu mikir di-ghosting, diblokir, atau salah paham cuma karena satu kalimat.”
Ia tertawa lagi, kali ini getir. “Aku juga takut berharap, tauk. Kamu tahu kan, Tim. Aku udah capek jatuh di lubang yang sama.”
Di luar, sore merambat pelan. Cahaya matahari menembus tirai, menghangatkan bulu Timmy. Clarissa menutup mata sejenak, berharap kebisingan pikirannya ikut teredam oleh dengkur kecil anjing itu.
*****
Sementara itu, di Tangerang, Firman berdiri di depan Warung Bumbu Mami Rino. Bau andaliman menyengat, pedas getir yang khas, bercampur aroma bawang dan lengkuas. Warung itu kecil, tapi selalu ramai. Rupanya orang datang bukan hanya demi membeli bumbu, melihat juga pulang dengan membawa nasehat berharga.
“Beli berapa, Man?” tanya Mami Rino sambil menakar andaliman ke plastik kecil. Rambutnya disanggul sederhana, matanya tajam tapi hangat.