Firman terbangun dengan napas tersendat, seolah baru saja berenang jauh ke dasar laut dan lupa jalan kembali ke permukaan. Jam dinding menunjukkan pukul empat lewat sedikit. Tidur siangnya bukan tidur yang menyembuhkan, ternyata. Itu lebih mirip jeda singkat dari kepungan pikiran yang sejak pagi berisik tanpa izinnya.
Ia duduk di tepi kasur, mengusap wajah, lalu meraih ponsel. Refleks yang bahkan ia sendiri tak sadari sepenuhnya. Ada satu kebiasaan buruk yang tak pernah benar-benar ia akui. Sekarang ini saja ia membuka akun X Gloria secara diam-diam, tanpa mengikuti, tanpa meninggalkan jejak. Mengintip dari celah, seperti orang yang berdiri di luar pagar rumah orang lain, menebak-nebak isi ruang tamu si empunya rumah dari cahaya lampu.
Ia mengetik nama itu. Jari-jarinya dingin.
Satu unggahan terbaru muncul: "Jadi males upload foto lagi..."
Firman menelan ludah.
Kalimat pendek. Tanpa emoticon. Tanpa konteks pula. Namun justru karena itulah, pikirannya berlari ke mana-mana. Seperti biasanya. Penyakit overthinking menghinggapi Firman lagi.
“Untuk aku, kah, ini?” bisik hatinya, cepat-cepat disusul bantahan dari akal sehatnya sendiri. Jangan terlampau percaya diri dulu. Jangan bodoh, Firman. Jangan merasa menjadi pusat semesta seseorang yang bahkan tidak tahu kamu sedang melihatnya.
Namun pikiran itu telanjur mengakar. Ia teringat pemblokiran yang ia lakukan. Sungguh keputusan impulsif yang kini terasa seperti batu besar yang ia lempar ke kaca jendela, lalu pura-pura lupa bahwa suara pecahnya masih bergema. Bisa saja Gloria malas mengunggah foto karena itu. Karena satu tindakan kecil dari seseorang yang tak seharusnya berarti apa-apa.
Ia memejamkan mata. Lalu terbuka lagi.
“Terus cerpen tadi itu…” gumamnya.
Siang tadi, Firman menulis sebuah cerpen pendek. Itu merupakan kebiasaan Firman, yang anggap saja sebuah pelarian yang sering ia lakukan saat kepala terlalu penuh. Di dalamnya, tanpa ia sadari sejak awal, nama Clarissa muncul. Tentu saja Firman tak berani menggunakan nama sebenarnya. Namun cirinya terlalu jelas bagi siapa pun yang mengenal Clarissa. Untuk orang-orang yang paham, Clarissa merupakan perempuan yang seringkali tenang, setia mendengar, hingga selalu hadir tanpa menuntut apa-apa. Jelas-jelas itu merujuk ke Clarissa, sahabatnya Gloria sejak keduanya masih di grup tersebut.
Memang Firman tidak menyebut Gloria atau Clarissa secara tajam. Namun dunia kecil fandom itu seperti memiliki radar yang tajam. Segala sesuatu bisa ditarik benangnya, disambung-sambungkan, lalu dibentuk menjadi cerita lain yang lebih liar.
“Apa Glo marah? Ngambek?” Firman bertanya pada dirinya sendiri, lalu segera menertawakan kebodohannya sendiri. “Marah kenapa? Aku siapanya dia?”