Kembali Gloria bertemu dengan Clarissa. Kali ini ada teman-teman mereka lainnya, sesama Generasi Ketiga dari grup idola tersebut. Mereka berkumpul di sebuah lapangan padel. Ada Indira, Angela, Nadiva, Dhea, Dilla, dan yang sedang berulang tahun ke-27. Setelah asyik ber-padel ria, mereka berencana akan bergegas ke sebuah restoran Italia yang ada di kawasan--tak jauh dari Gandaria City. Ulang tahun Anin akan diadakan di sana.
Sebelum berganti pakaian, Clarissa menghampiri Gloria, dan berkata, "Baik-baik aja, kan, Glo? Hati aman?"
Gloria terkekeh. "Baik-baik aja, lah, Cla. Seorang Gloria Hao pantang lama-lama nangis bombay. Camkan itu, Mbak-mbak Jawa yang kalau ngomong, mulutnya pedes."
Clarissa tertawa. "Hahaha... bukannya kamu yang pedes? Aku ngomong gitu, tuh--"
Sejenak Clarissa menunjuk ke arah kedua mata Gloria yang berkantung hitam dan agak bengkak. Lanjut Clarissa lagi, "--abis nangis, kan, semalam? Gara-gara cowok aneh itu? Siapa namanya?"
"Kalau nggak salah, namanya Firman," kata Gloria mengangkat bahu. "Emang segitu kelihatannya?"
"Kelihatan banget, kali, Glo," Clarissa kembali terkekeh. "Emang kamu ke dia gimana?"
Bukannya Gloria yang menjawab, malah Indira yang merespon, "Glo sih malu-malu mau, ya kan Glo?"
"Apaan sih, Ci?" ujar Gloria tersinggung, tapi pipinya memerah.
Lapangan padel itu dipenuhi tawa yang memantul-mantul seperti bola kecil yang baru saja mereka pukul. Keringat mengilap di dahi, rambut diikat seadanya, dan sepatu olahraga tergeletak sembarangan di pinggir bangku. Anin, yang hari ini genap berusia dua puluh tujuh, menepuk tangan, pura-pura mengatur barisan seperti pelatih Padel yang sesungguhnya.
“Oke, oke, abis ini mandi, ganti baju, terus gas ke sana!” seru Anin. “Aku nggak mau telat ke ultah aku sendiri.”
Dhea bersiul, Dilla mengangkat botol minum, Nadiva dan Angela saling bercanda tentang menu pasta, sementara Gloria menyeka keringat dengan handuk kecil. Candaan Indira tadi masih menggantung di udara, membuat pipi Gloria terasa panas.
“Apaan sih, Ci?” ulang Gloria, kali ini sambil nyengir paksa. “Malu-malu mau apaan. Aku tuh lagi pengen hidup tenang. It's okay to be single. It's not bad. Fokus aku sekarang lebih ke... nyari duit sebanyak-banyaknya.”
Indira mengangkat bahu, senyum jailnya khas. “Tenang tapi kepikiran, kan, beda tipis, Glo. Denial aja kamu, ah. Tapi kalau cowok itu, ketahuan kamu, gombalin cewek-cewek lain, kamu mewek, kita-kita dicurhatin."
Clarissa menyandarkan punggungnya ke pagar lapangan, melipat tangan. Ia menatap Gloria dengan mata yang tidak menghakimi. Itu lebih seperti orang yang sedang menunggu kejujuran jatuh dengan sendirinya.
Langsung Clarissa menatap galak Gloria dan berkata, “Kita ke ruang ganti dulu, ya. Nanti kamu ceritain, sambil ganti baju.”
Mereka berjalan ke ruang ganti perempuan. Suara pintu loker dibuka-tutup bercampur aroma sabun dan parfum ringan. Angela memutar lagu pelan dari ponselnya. Anin sibuk memilih gaun, sesekali minta pendapat. Suasana riuh, akrab, dan... mungkin di dalam merupakan jenis ruang yang membuat rahasia lebih mudah bernapas.
Clarissa berdiri di samping Gloria, menyerahkan tisu. “Nih.”