Firman duduk di bangku kayu kecil dekat jendela, kaki kanannya disilangkan, tangan kirinya memegang roti kukus Thailand yang masih mengepul tipis. Aroma pandan dan susu kental manis bercampur, menguar pelan. Bagi Firman, itu terasa hangat, manis, dan cukup menenangkan. Harusnya begitu. NamjnNamun pikirannya tidak ikut duduk di situ. Pikirannya melompat-lompat, seperti notifikasi media sosial yang tak pernah benar-benar mati.
Dengan tangan kanan, ia menggulir Thread di ponselnya. Nama itu muncul: Cindy Sompie. Dulu, Cindy Sompie merupakan anggota grup idola yang sama. Dengan Gloria, Clarissa, dan... Tania.
Tania merupakan, ehem, ada yang bilang korban ke sekian dari Firman. Dulu istri dari pebulutangkis berprestasi di Indonesia itu pernah memiliki masa lalu dengan Firman. Sekarang Tania sudah memiliki seorang bayi laki-laki yang akan berusia dua tahun. Bernama Jacky. Dinamakan seperti itu karena terinspirasi dengan Jacky Chan, artis Mandarin yang terkenal sebagai seorang stunt master.
Firman membaca pelan, nyaris mengeja, seolah tiap kalimat adalah kode yang harus dipecahkan.
“Gemes banget liat orang yang secara gak langsung mengedukasi dan mempromosikan nikah umur 19 tahun. Nikah itu keputusan, bukan prestasi, kali, Mbak.”
Firman berhenti mengunyah. Roti di mulutnya terasa hambar. Kalimat itu memantul, lalu memecah di kepalanya. Ia teringat Gloria. Selalu Gloria. Ingatan itu datang tanpa izin, seperti iklan pop-up yang tak bisa ditutup. Yang terkadang iklan itu berbau judi daring.
Dua atau tiga tahun lalu, yang ia lupa tepatnya, Firman pernah mengirim fan gift. Tidak besar. Tidak mewah pula. Hanya sebuah boneka Doraemon, yang dibungkus rapi, dan selembar surat. Di surat itu, ia sebenarnya hanya bercanda. Candaan bodoh, mungkin, yang acap dilemparkan seorang penggemar ke artis idolanya, demi semata-mata mendapatkan perhatian idolanya. Candaan itu tentang menikah. Tentang masa depan yang ditulis Firman terlalu dini pula. Kala itu ia menulisnya dengan tawa kecil di bibir, dengan perasaan yang saat itu terasa ringan. Ia tidak bermaksud apa-apa. Benar-benar hanya candaan. Entah apa tanggapan Gloria. Mungkin saja Gloria risih dan berkata yang bukan-bukan ke staf atau manajemennya.
Omong-omong, masihkah Gloria mengingatnya?
Pertanyaan itu muncul begitu saja, seperti duri halus. Apakah surat itu dibaca? Disimpan? Atau, seperti cerita yang pernah ia baca di fanbase, yang dibuang begitu saja? Firman ingat gosip ita, bahwa ada member yang diam-diam membuang fan gift ke tempat sampah di fX Sudirman. Ia tak pernah tahu apakah itu benar. Namun sejak membaca cerita itu, setiap hadiah yang ia kirim terasa seperti koin yang dilempar ke sumur tanpa gema. Begitu dilempar, langsung memantul dan menyelusup masuk ke dalam kepalanya, lalu membusuk di sana.
Ia menggigit roti lagi. Kali ini terasa terlalu manis.
“Kalau pun disimpan,” gumamnya pelan, “paling juga udah lupa siapa itu Firman. Gue ini siapa sih?”
Ia menatap layar. Cindy Sompie melanjutkan Thread-nya dengan nada tegas, nyaris marah. Tentang bagaimana menikah muda dipuja-puja, bagaimana kuliah diremehkan, bagaimana hidup dipersempit menjadi satu tujuan tunggal. Firman mengangguk pelan, meski tak ada yang melihat. Ada bagian dari dirinya yang setuju. Ada juga bagian yang merasa tersentil.
Ia menutup Thread, lalu membuka X. Jarinya berhenti di kolom pencarian. Nama Gloria hampir saja ia ketik, lalu dihapus. Ia mendesah. Hubungannya dengan layar ponsel akhir-akhir ini mirip dengan hubungan yang gagal. Yang terlalu sering berharap, terlalu sering dikecewakan pasangan.