Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #12

Detektif atau Cenayang, Nih?

Firman duduk santai di kursi plastik depan rumah, kaki selonjor, punggung bersandar setengah malas. Udara malam terasa lebih ramah dari pikirannya sendiri. Lampu teras menyala temaram, serangga malam berdengung lirih. Di tangannya, ponsel kembali menjadi jendela. Yang bukan ke dunia luar, melainkan ke lorong-lorong tafsir yang tak pernah benar-benar ia pahami.

Itu terjadi saat Firman membuka X. Nama Ivy muncul. Mantan anggota grup idola. Dulu Ivy pernah akrab dengan Gloria. Firman tidak tahu seberapa dekat, tapi cukup dekat untuk memantik imajinasi liarnya. Ia tidak langsung membaca satu per satu. Ia menggulir dulu, seperti orang menyusuri album lama tanpa niat, lalu berhenti di beberapa potongan yang terasa menyentil.

"LDR Jakarta - Bogor berat juga."

Firman berhenti minum susu kocok. Pandangannya pindah ke ketikan Ivy yang lainnya.

"Kendaliin diri kalian, jangan kasianin aku. Karena aku udah dideketin orang lain lagi.

Emang konsepnya mati 1 tumbuh 1000."

Firman sekonyong-konyong mengangkat alis. LDR dari Jakarta ke Bogor itu memang berat. Ia pernah melewati rute itu. Bukan LDR, tapi perjalanan menuju rumah sahabatnya yang bernama Dave. Ia tahu bagaimana jarak yang pendek bisa terasa jauh jika kepala sedang kusut.

Ia lanjutkan membacanya.

"Aman, Ci, udah ada yang temenin aku..."

Ketikan selanjutnya jauh lebih menyayat hati Firman. Di pikiran Firman, yang mengetik bukan Ivy, tapi Gloria. Bukan kali pertama Firman begini juga.

"Seru, deh. Hari ini abis first date."

Firman menyeruput susu kocoknya pelan-pelan.

"Ternyata asyik juga pacaran sama koko-koko umur 30 tahun."

Firman berhenti menggulir. Jarinya menggantung di layar. Kata-kata itu berputar-putar, seperti potongan jigsaw yang dipaksakan saling menempel. Padahal jelas-jelas hanya ketikan acak yang diketik selebgram dalam kondisi hati yang... bisa saja yang menulis sedang nge-gym sambil memeluk boneka.

Lihat selengkapnya