Firman terbangun dengan napas tersengal, dadanya naik turun seperti baru saja dikejar sesuatu yang tak kelihatan. Keringat dingin membasahi tengkuknya, sementara bayangan mimpi itu masih lengket di kelopak mata. Saat ia melihat Gloria duduk di sebuah ruangan putih dengan lampu-lampu studio, memegang naskah tebal, tertawa kecil bersama Takeshi dan beberapa orang lain yang wajahnya samar-samar. Mereka terlihat begitu akrab, begitu mesranya juga, seolah dunia di sekeliling Firman tak pernah ada. Entah untuk film apa, entah juga demi proyek apa. Yang jelas, dalam mimpi itu, Firman hanya berdiri di sudut, tak terlihat, tak dianggap sama sekali.
Ia meraih ponsel di samping bantal. Layarnya menyala pelan, memamerkan angka 12.45. Tengah malam yang lewat setengah jam, tapi kepalanya terasa seperti baru saja menabrak siang bolong. Di atas, dari lantai dua rumah itu, terdengar bunyi cekrek-cekrek bunyi. Di telinga Firman, itu seperti suara setrika yang digeser di atas kain. Ritmenya lambat, nyaris meditaf, tapi cukup jelas untuk membuat Firman mengerutkan kening.
Tak lama, suara langkah kaki ringan menyusul, lalu kembali ke bunyi setrika. Firman tahu itu Irma, kakak keduanya. Irma memang sering begitu kalau insomnia menyerang. Kakaknya yang nomor dua itu suka menyetrika, merapikan lemari, atau sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, seperti ingin merapikan pikirannya sendiri. Namun tetap saja, ada sesuatu yang terasa ganjil. Apakah wajar menyetrika di tengah malam, seakan rumah ini tak pernah benar-benar tidur?
Firman bangkit, duduk di tepi ranjang. Ia mengusap wajah, lalu berjalan ke dapur. Mengambil segelas air dingin, meneguknya perlahan. Air itu turun ke tenggorokan seperti garis lurus yang menenangkan, meski tak sepenuhnya memadamkan panas di kepalanya. Ia ke kamar mandi, kencing, menatap pantulan dirinya di cermin. Di cermin, terlihat matanya agak merah, rahangnya mengeras, hingga rambutnya berantakan sekali. Wajah seseorang yang kalah tidur, dan entah kenapa, kalah juga oleh pikirannya sendiri.
Kembali ke kamar, Firman berbaring lagi. Lampu dimatikan, hanya cahaya ponsel yang sempat menyala sebelum ia menaruhnya telungkup. Dalam gelap, kata-kata Mami Rino tiba-tiba muncul begitu saja, seperti ditarik dari dasar ingatan.
“Ketika mentalmu lemah, situasi adalah masalah. Ketika mentalmu seimbang, situasi adalah tantangan. Ketika mentalmu kuat, situasi adalah kesempatan.”
Firman menarik napas panjang. Mami Rino, yang merupakan seorang pemilik warung kecil tempat ia biasa beli andaliman. Perempuan yang mana suaminya sering dipanggil almarhumah mamanya Firman untuk memperbaiki listrik di rumah. Sekarang suaminya Mami Rino itu tak lagi memperbaiki listrik. Ia hanya ikut membantu istrinya menjaga warung.
“Jadi ini soal masalah, tantangan, atau kesempatan?” gumam Firman pada langit-langit kamar.