Di tengah cuaca yang kadang mendung, di tengah-tengah pula sedang menonton salah satu filmnya Gloria (yang berjudul "Tak Selamanya tentang Kamu"), suara alarm mobil tiba-tiba terdengar. Dari rumah nomor 9, yang dimiliki oleh Hilman Sidabutar, tetangganya Firman yang cukup menyebalkan. Hati Firman sekonyong-konyong dongkol.
Sekonyong-konyong pula kepala Firman berisik lagi. Terdengar suara-suara yang seperti menjelaskan bagaimana film yang ia sedang ditonton, awal mulanya dibuat. Ada sosok tak kasatmata yang menjelaskan film ini sebetulnya, naskahnya disodorkan ke Gloria, mulai digodok mula-mula di tahun 2021. Katanya, itu sedikit menjelaskan beberapa postingan Gloria di tahun 2022 yang lalu. Tentang Gloria yang mendadak menyukai seni lukis jalanan (baca: grafiti atau mural). Tentang tempat yang didatangi Gloria yang mana perempuan itu mengenakan kardigan krem kekuningan, yang bisa saja itu kantor sebuah rumah produksi, dan terkait film yang tadi Firman tonton. Juga, hal-hal dari Gloria posting, yang menggelitik pikiran dan alam bawah sadar Firman.
Firman kembali menatap layar televisi dengan tubuh setengah rebah. Film itu sudah berjalan hampir empat puluh menit. Kembali pula ia membaca judul yang tertera di layarnya: "Tak Selamanya tentang Kamu". Judulnya sederhana, nyaris klise, tapi entah mengapa selalu berhasil menyeret Firman masuk lebih dalam daripada yang ia inginkan. Ia hafal beberapa dialog, bahkan hafal adegan ketika tokoh perempuan berjoget-joget sambil minum sesuatu, selepas menonton sebuah pertunjukan musik.
Lalu suara alarm mobil itu meraung. Lagi dan lagi. Kali ini, lebih nyaring dan panjang. Bangsat, umpat Firman dalam hati. Dari rumah nomor 9 itu lagi.
“Ah, si Abang Hilman itu lagi,” gumam Firman, rahangnya mengeras. Hilman Sidabutar, dengan Swift, yang entah kenapa alarmnya sensitif terhadap angin, kucing, atau mungkin itu karena keberadaan dunia itu sendiri. Dongkol Firman naik perlahan-lahan, seperti air got yang tersumbat. Ia mematikan volume televisi, tapi suara alarm masih tembus, memantul-mantul di kepalanya Firman sendiri.
Sekonyong-konyong pula Firman lebih memilih untuk bertempur dalam kekacauan yang ada dalam kepalanya yang sedari tadi masih berisik. Yang lebih halus dan tenang, seperti narator dokumenter yang terlalu yakin dengan setiap katanya. Suara itu menjelaskan, tanpa diminta, seolah Firman sedang duduk di ruang kelas tak kasatmata.
“Film ini,” kata suara itu, “sebetulnya sudah lama direncanakan. Naskahnya pertama kali disodorkan ke Gloria di akhir 2021. Masih mentah dan penuh coretan dari scriptwriter-nya.”
Firman memejamkan mata sejenak. Di layar yang gelap, potongan-potongan gambar muncul sendiri. Sebuah ruang rapat kecil, meja kayu panjang, kopi saset, dan tumpukan kertas naskah dengan judul sementara. Ia seperti tahu, tanpa pernah benar-benar tahu apa sebenarnya yang menimpa Gloria selama 2,5 tahun terakhir.
“Prosesnya panjang,” lanjut suara itu. “Dan kau ingat postingan-nya di 2022? Tentang mural, grafiti, seni jalanan? Mungkin sekitar bulan Januari 2022 yang lalu, kau pasti lupa.”
Firman menelan ludah. Ia ingat. Terlalu ingat, malah. Gloria dengan latar tembok penuh warna. Gloria berdiri dengan sorot mata seperti sedang galak memandangi seseorang, yang mengenakan kardigan krem kekuningan, dan mengumbar senyum yang tak sepenuhnya ke kamera. Kala itu Firman mengira Gloria sedang melamar di sebuah perusahaan. Baru saja wawancara.
“Bukan wawancara, Bodoh,” suara itu berbisik, kini lebih dekat. “Dia sedang di sebuah rumah produksi. Bahkan beberapa lokasi itu dekat dengan kantor rumah produksi itu. Tempat ia dan beberapa kru dan pemain berdiskusi tentang script-nya. Tempat ide-ide film ini sedang digodok habis-habisan.”