Firman berdiri di depan Aizawa Laundry, menerima plastik bening berisi hem yang sudah rapi disetrika. Bau pelembut pakaian menyeruak. Suatu aroma bersih yang anehnya selalu membuat pikirannya sedikit lebih tenang. Ia mengangguk singkat pada pegawai binatu, lalu melangkah ke luar. Matahari siang itu tidak terik, hanya redup. Ah, itu seperti sengaja menyesuaikan diri dengan suasana hatinya yang menggantung.
Beberapa meter dari tempat binatu tersebut, sebuah gerai "Pisang Oke Kebon Nanas" sudah ramai. Firman membeli sebungkus pisang goreng, duduk di bangku plastik biru yang kakinya goyah. Minyaknya masih panas. Gigitan pertama terasa renyah. Rasa manisnya sederhana. Yang tidak berlebihan, pastinya. Ia membuka ponsel, menggulir linimasa tanpa tujuan, seperti orang yang berjalan di lorong panjang sambil berharap menemukan pintu yang terbuka. Itu sama sekali tak berhubungan dengan Gloria atau Clarissa. Memang selama sekian tahun terakhir, bahkan sebelum kematian sahabatnya di Oktober 2018, Firman sudah mempraktikkan slogan 'love yourself'.
Lalu ia membaca status Bu Irawati. Bu Irawati merupakan guru Geografi sekaligus wali kelasnya saat kelas 12 di sebuah sekolah Katolik, di rentang 2004–2007. Nama itu muncul begitu saja, dan seketika Firman merasa seperti murid yang kembali dipanggil ke depan kelas. Cara menulisnya masih sama. Wali kelasnya itu selalu senang memberikan petuah yang panjang, penuh lapisan tersendiri, dan sering menggunakan sapaan seperti "Nduk" atau "Cah Ayu”. Itu diucapkan dengan kelembutan yang terasa tulus. Firman sekonyong-konyong berhenti mengunyah. Pisang gorengnya sontak mendingin di tangan.
Kalimat demi kalimat seperti palu kecil yang mengetuk dinding di dalam dadanya.
Petuah panjang Bu Irawati itu lebih tentang orangtua yang tidak sempat mengeluh. Tentang rasa lelah yang tidak pernah diucapkan orangtua ke anak-anaknya. Tentang harapan yang sederhana agar si anak santun, berhasil, dan bahagia. Pun, tentang disiplin yang dulu terasa kejam, tapi ternyata membentuk. Tentang hidup yang tidak selalu ramah. Tentang ijazah, life skill, dan attitude.
Firman menghela napas panjang. Entah kenapa, status itu terasa seperti ditujukan langsung kepadanya. Meski ia tahu, bisa saja itu ditujukan kepada adik-adik kelasnya di Tarakanita.
Ia teringat pertengkarannya dengan papa beberapa waktu lalu. Tentang catering makanan sehat yang mendadak. Sepele, seharusnya. Namun, suara papanya yang ketus masih terngiang, dan Firman tahu, di balik keketusan itu ada kelelahan yang tidak pernah benar-benar diceritakan. Papanya bangun pagi, pulang sore, memikirkan ini-itu untuk Firman juga ujung-ujungnya. Firman seringkali lupa bahwa hidup orang dewasa bukan sekadar bertahan, tapi menahan segala rasa sakitnya sendiri saja.
“Semua dilakukan orangtuamu dengan senang hati… apapun akan dilakukan demi kalian.”
Firman menunduk. Ada rasa bersalah yang tidak nyaman, tapi juga ada pemahaman yang perlahan tumbuh. Ia ingat masa SMA, yang betapa ia sering membandingkan hidupnya dengan teman-teman lain. Yang boleh main sampai malam. Yang bebas menginap. Yang tampak lebih ringan daripada kehidupannya sebagai orang dewasa. Ia juga ingat betapa ia jarang benar-benar memikirkan dari mana uang untuk membayar uang sekolah itu datang. Pun bagaimana papa dan mamanya mengumpulkan uang agar dapur tetap mengepul.
Pisang goreng kedua ia makan pelan-pelan, seolah setiap kunyahan perlu waktu untuk dicerna bersama pikiran.
Status Bu Irawati menyinggung tentang life skill. Itu seperti cara mengendalikan emosi, membuat keputusan, menghormati waktu, hingga menghargai orang lain. Firman tersenyum pahit dibuatnya.
Ah, caranya untuk mengendalikan emosi. Itu adalah hal yang paling sering gagal ia lakukan belakangan ini. Pikirannya mudah berisik, mudah meloncat dari satu tafsir ke tafsir lain, terutama tentang perempuan artis bernama Gloria Hao. Ia sering merasa dunia sedang memberinya kode, padahal bisa jadi itu hanya gema dari kepalanya sendiri.
Ia teringat betapa sering ia menunda pekerjaan kecil, betapa mudah ia tenggelam dalam asumsi. Ia teringat mimpi-mimpi yang belum terwujud. Ia teringat rasa iri yang tak perlu akibat melihat silaunya kehidupan teman-temannya yang lebih sukses dari dirinya. Semuanya itu seperti benang kusut yang selama ini ia pegang erat, padahal bisa dilepaskan satu per satu.
“Lebih penting lagi attitude,” tulis Bu Irawati.
Firman menatap layar ponsel lagi. Tentang attitude, sopan santun, cara memandang hidup, hingga cara menyikapi keadaan. Mungkin benar kata Mami Rino. Bahwa saat mental lemah, situasi akan menjadi masalah. Saat seimbang, itu akan menjadi tantangan. Saat kuat, itu tentu akan menjadi kesempatan. Firman belum sampai di fase yang terakhir, tapi mungkin ia bisa bergerak ke yang kedua.