Gerobak Kangen Kopi berdiri sederhana di sudut jalan, beratap terpal hitam dengan lampu bohlam kekuningan yang menggantung rendah. Aroma kopi tubruk bercampur gula aren menyelinap di antara asap knalpot dan debu sore. Firman berdiri menunggu pesanannya, yaitu sebuah es kopi gula aren tanpa embel-embel, sembari menggulir Instagram. Ia tidak sedang mencari apa-apa. Hanya mengisi waktu, atau mungkin menenangkan kepala yang sejak siang tak pernah benar-benar diam.
Lalu sebuah video muncul. Dari Delilah. Delilah merupakan seorang selebgram, gamer Mobile Legends, aktif di e-sport ROAR. Kali ini, Firman beranggapan Delilah tampil cantik dengan rambutnya yang diikat sederhana, dan headset menggantung di leher. Ia bicara santai, tapi matanya lelah. Takarirnya pendek dan pedas:
"Kopi, ngafe dan mall bukanlah cara healing yang baik untuk dompet si kaum marginal ini. Mengecewakan. Bukannya seneng, malah makin stres."
Firman tersenyum miring. Ada kejujuran yang menohok di sana. Ia memutar ulang videonya tanpa suara, hanya membaca gerak bibir dan ekspresi Delilah. Delilah bukan sedang mengeluh manja. Di mata Firman, ia seperti sedang menyimpulkan pengalamannya. Firman lalu teringat Mindy, nama yang pernah ia dengar berulang kali di linimasa lama. Mindy yang dulu kerja bersama Gloria di grup idola sekitar 2019–2020. Lingkaran itu terasa dekat sekaligus jauh, seperti kota yang pernah ia singgahi lewat cerita orang lain.
“Udah jadi, Bang,” suara barista memanggil.
Firman mengangguk, menerima gelas plastik bertuliskan Kangen Kopi. Ia duduk di bangku lipat, meniup sedotan, lalu menyeruput pelan. Rasanya biasa saja, tapi sudah cukup. Tidak menyembuhkan apa-apa, tapi juga tidak menambah beban ke dalam otaknya Firman.
Ia kembali ke video Delilah. Kata 'healing' terasa lucu sekaligus pahit. Beberapa tahun terakhir, kata itu seperti mantra. Pergi ke kafe, ke mal, ke tempat yang terang, yang katanya bisa menyembuhkan. Firman menimbang-nimbang. Untuk dompetnya yang pas-pasan, healing sering berarti angka-angka yang berisik di kepala setelah dipraktikkan. Bukannya tenang, malah cemas berlebihan.
“Bukannya seneng malah makin stres,” gumamnya, mengutip, lalu tertawa terbahak-bahak.
Ia menatap jalan. Orang-orang lewat dengan gelas kopi masing-masing, seolah membawa harapan kecil yang sama. Sekonyong-konyong ia duduk sebentar, minum sesuatu, lalu pulang dengan perasaan yang lebih baik. Firman tahu, bagi sebagian orang, itu tetap dianggap bekerja. Bagi sebagian lain, justru ketenangan datang dari tempat yang lebih sunyi. Mungkin saja ketenangan datang dari aktivitas-aktivitas seperti merapikan baju di binatu, berjalan tanpa tujuan, membaca nasehat guru lama, atau sekadar duduk menatap langit senja. Yang terakhir, lalu memotretnya, sambil memasukkan emoji hati oranye.
Video Delilah berhenti di akhir. Firman menutup aplikasi. Ia tidak iri, tidak juga sinis. Hanya mengangguk pelan, mengakui satu hal. Bahwa tidak semua resep cocok untuk semua orang. Mungkin healing-nya Firman bukanlah sekadar kopi mahal atau mal berpendingin. Mungkin healing-nya adalah menerima keterbatasan tanpa mengutuknya. Seperti saat ia melihat seorang pemulung duduk di pinggir jalan sambil merokok sebatang.