Nomor itu menelepon lagi. Untuk ketiga kalinya pagi itu. Firman menatap layar ponsel dengan rahang mengeras. Angka-angka tak dikenal, awalan yang tak ia simpan, tak ia kenali, tak pernah ia undang masuk ke hidupnya. Ia mengangkatnya kali ini, bukan karena berharap jawaban, melainkan karena amarah sudah terlanjur menumpuk.
“Halo?” kata Firman tajam.
Tak ada suara. Hanya dengung tipis, seperti napas yang ditahan. Firman memaki, kata-kata kasar tumpah tanpa jeda, seolah ia sedang melawan sesuatu yang lebih besar dari sekadar penelepon iseng. Ia menutup sambungan dengan jari gemetar, lalu melempar ponsel ke kasur. Dadanya naik turun. Mendadak kamarnya itu terasa sempit, seolah dindingnya ikut mendekat.
Di kepalanya, perang suara kembali dimulai.
<Lo masih mikirin Gloria?>
<Jelas, dari dulu juga.>
<Dia bahkan nggak mikirin lo sekarang.>
<Terus kenapa dada ini sesak setiap dengar namanya?>
Firman menutup wajah dengan kedua tangan. Nama itu seperti paku karat, yang sudah lama tertanam, tapi setiap disentuh tetap perih. Nama itu masih tetap sama: Gloria. Dengan hidupnya yang terus bergerak, proyek demi proyek, lingkaran manusia yang semakin jauh dari jangkauan Firman. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa ia sudah berdamai. Namun suara di kepalanya tidak pernah sepakat.
Sebulan terakhir, tidurnya selalu diganggu mimpi yang sama. Gerombolan orang dengan wajahnya mereka tertutupi tudung atau kabut tipis, langkah mereka serempak berduyun-duyun, mendekat dari gang-gang sempit. Ada yang membawa tongkat, ada yang hanya menatap dengan mata kosong pula. Mereka tidak berteriak atau mengancam. Justru itu yang paling menakutkan. Mereka hanya mengejar-ngejar dirinya. Firman selalu terbangun tepat sebelum tertangkap. Begitu bangun, keringat dingin membasahi punggung. Jantung berdebar seperti ingin kabur dari dadanya sendiri.
Ia pernah mencoba menghitung, yang sudah berapa malam mimpi itu datang? Dua puluh? Dua puluh lima? Nyaris sebulan?
Seolah pikirannya sedang dihukum atas sesuatu yang tak pernah benar-benar ia lakukan. Itu membuat Firman kesal bercampur tangis.