Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #18

Antara Perang Roh dan Doa Minta Jodoh

Hujan turun sejak Firman keluar dari gereja. Bukan hujan deras yang galak, melainkan hujan yang seperti niat setengah hati. Dia masih rintik tapi terkadang seperti hendak reda. Rintiknya itu cukup untuk membuat baju lembap dan sepatu terasa berat. Jalanan Modernland mengilap, memantulkan lampu kendaraan dan papan toko yang separuh mati. Firman berjalan cepat, kepala sedikit menunduk, tas selempang menempel di dada. Di telinganya masih terngiang potongan khotbah tentang ketekunan dalam iman dan diam yang menyelamatkan, tapi kata-kata itu berbaur dengan bunyi air hujan dan klakson.

Ia sampai rumah lewat sedikit setelah jam satu siang. Pintu dibuka, bau lembap langsung menyergap. Langsung diadang oleh bau rumah tua yang menyimpan air hujan di pori-porinya. Firman menutup pintu pelan, menggantung jaket, melepas sepatu. Kakinya dingin. Tubuhnya lelah dengan cara yang aneh: bukan lelah fisik, tapi lelah karena menahan sesuatu sepanjang ibadah.

Begitu ia melangkah ke arah kamar, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka, lalu ditutup. Itu adalah suara Irma, kakaknya yang nomor dua. Disusul bunyi air mengalir, pertanda keran dibuka. Sebetulnya sangat sepele, karena khas kehidupan ehari-hari. Namun bagi Firman, kepalanya langsung riuh. Perang suara dimulai tanpa aba-aba.

<Kenapa lo tegang cuma karena suara air?>

<Karena lo nggak pernah benar-benar tenang.>

<Gloria.>

<Jangan sebut.>

<Lo pikir doa bisa ngusir halusinasi lo?>

Firman masuk kamar dan menutup pintu. Ia duduk di tepi kasur, menunduk. Tangannya gemetar kecil. Nama itu kembali muncul seperti iklan pop-up yang tak bisa ditutup. Gloria, dengan senyumnya yang setengah percaya, juga dengan jarak yang tak pernah benar-benar bisa ia jembatani, muncul kembali di kepalanya. Suara di kepalanya memprovokasi demi memelintir kenangan, hingga membesar-besarkan penyesalan.

<Kalau waktu itu lo ngomong...>

<Cukup.>

<Kalau lo lebih berani—>

<Cukup.>

Firman berdiri, meraih kalung Rosario yang tergantung di gagang lemari. Butir-butirnya dingin di telapak tangan. Tanpa banyak pikir, ia duduk bersila di lantai, bersandar ke sisi kasur. Ia menarik napas, lalu mulai berdoa. Ia memilihnya bukan karena alasan khusus. Karena memang seharusnya seperti itu. Ia hanya mengikuti kebiasaan yang sudah berjalan turun temurun. Apalagi juga karena kata mulia terdengar seperti sesuatu yang ia butuhkan hari itu.

“Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa…”

Doanya mula-mula terbata. Suara di kepalanya masih berisik, menyela, menertawakan jeda-jeda. Namun Firman terus melanjutkan. Butir demi butir ia geser dengan ibu jari.

Kebangkitan Tuhan.

Kenaikan ke surga.

Lihat selengkapnya