Firman terbangun dengan dada berdebar, seolah napasnya baru saja ditarik paksa dari kedalaman air. Ruangan kamar masih sama: tembok pucat, kipas angin berdecit pelan, cahaya sore yang menyusup lewat celah gorden. Namun sisa mimpi itu belum sepenuhnya pergi. Bayangan ruangan konseling masih menempel di kepalanya. Ada kursi-kursi berderet rapi, lampu putih terlalu terang, dan orang-orang dengan wajah samar yang berbicara bergantian, seakan masing-masing memegang kunci gerbang tak kasatmata.
“Mereka penjaga,” kata salah satu sosok dalam mimpi itu. Ia mengaku seorang psikiater di dunia nyata. “Penjaga antara dunia mimpi dan dunia fisik. Kalau batasnya bocor, pikiran manusia yang rapuh bisa terseret, lalu chaos.”
Firman mengusap wajahnya. Tenggorokannya kering. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang, mencoba menenangkan diri.
“Cuma mimpi,” gumam Firman yang masih panik. Yang anehnya, mimpi itu terasa terlalu runtut, terlalu sistematis untuk sekadar bunga tidur. Ada struktur, aturan, bahkan peran yang berstruktur dan sistematis pula.
Ia meraih ponsel. Jam menunjukkan pukul 16.28. Notifikasi muncul satu per satu. Tak ada yang mendesak. Namun jarinya refleks membuka Instagram. Entah kenapa, seolah ada dorongan dari bawah sadar.
Story Gloria Hao muncul di urutan teratas.
Firman menelan ludah.
Di layar, Gloria berdiri di depan sebuah gedung modern dengan kaca tinggi dan logo minimalis. "Produksi Tiada Batas" adalah nama kantor yang Gloria kunjungi. Sudut pengambilan gambarnya santai, tapi jelas itu bukan tempat sembarangan. Ada aura kerja, keseriusan, dan… well, itu sungguh awal dari sesuatu yang cerah, mungkin. Di story berikutnya, tampak seorang pria paruh baya berkemeja rapi, rambutnya mulai memutih di sisi pelipis.
Teks kecil di bawahnya bertuliskan. Dituliskan oleh seseorang yang bernama Pak Robin, dan ia menulis: “Makasih banyak, Glo, sudah mampir ke kantor kami.”
Lalu story selanjutnya, di mana ada swafoto Gloria. Ia sedang tersenyum tipis tapi matanya berbinar.
“You’re welcome, and let’s go, I can’t wait.”
Firman memejamkan mata sejenak. Kalimat itu seperti gema dari mimpi tadi. Let’s go. Seolah pintu lain baru saja dibuka. Seolah dunia fisik Gloria sedang bergerak maju, sementara dirinya masih berkutat di lorong-lorong pikiran yang gelap dan berisik.
Di tempat lain, di kantor Produksi Tiada Batas, Gloria menyelipkan ponselnya kembali ke tas. Ruangan rapat barusan masih terbayang. Ada papan tulis penuh coretan jadwal, potongan adegan, dan linimasa produksi. Pak Robin dan timnya menyambutnya dengan profesional nan hangat. Tidak ada janji muluk, hanya pembicaraan konkret tentang proses, karakter, dan komitmen.
Gloria menyukai itu. Dunia yang jelas. Dunia yang nyata pula. Daripada harus terlunta-lunta bersama seorang cogil resek yang ia bingung caranya bagaimana.
“Script-nya akan kami kirim versi revisi minggu ini,” kata Pak Robin tadi. “Kita pengin kamu nyaman, Glo, tapi juga bikin kau merasa tertantang.”