Iseseirman baru saja menjejakkan kaki di teras ketika aroma gula dan kayu manis dari kantong kertas churros masih menempel di jemarinya. Siang itu agak mendung. Langit seperti menahan hujan, dan perutnya yang hangat oleh cemilan justru beradu dengan perasaan tak enak. Sebuah perasaan bahwa ada sesuatu yang menunggunya di dalam rumah.
“Man, masuk dulu,” suara papanya terdengar dari ruang tengah. Nadanya datar, tapi Firman menangkap keseriusan yang tak biasa.
Di ruang tamu, duduk seorang laki-laki berusia awal empat puluhan. Kemeja kerjanya sederhana. Sepatunya pun sudah agak pudar. Di wajahnya ada gurat lelah yang jujur. Kelihatannya, jika Firman mengamati sekilas, itu bukan lelah yang dibuat-buat. Papa berdiri, menepuk bahu Firman singkat, lalu memperkenalkan.
“Ini Pak Damar. Dia mau lihat-lihat lantai dua. Sepertinya yang Papa amati, ada yang bisa diperbaiki sama Pak Damar sekalian.”
Firman mengangguk. Mereka bertiga naik ke lantai dua. Tangga keramik itu mengeluarkan bunyi yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Entakan kaki papanya dan Pak Damar itu seperti menghasilkan bunyi yang mengantarkan kenangan-kenangan tertentu. Ada tentang tawa sepupunya. Pun, tentang kamar yang dulu hidup lalu menjadi kosong. Papa mengarahkan Pak Damar ke kamar yang di tahun 2016, itu pernah dipakai oleh Hendra Siagian, abang sepupunya. Jendela di sana menghadap ke sisi rumah, kaca-kacanya agak buram, kusennya mulai lapuk.
“Di sini,” kata Papa, menunjuk sudut dekat jendela. “Rencananya mau direnovasi. Lantai dua ini sudah lama nggak disentuh.”
Pak Damar mengeluarkan meteran, mengukur pelan. Ia bekerja dengan hati-hati, seolah tak ingin mengganggu sisa-sisa kenangan yang tertinggal di ruangan itu. Firman berdiri di ambang pintu, memperhatikan cahaya sore yang masuk dari jendela. Menurut dirinya, cahaya itu masih saja tak jauh berbeda dengan cahaya yang jatuh tepat di lantai tempat Hendra dulu sering duduk merokok sambil bercerita tentang kenangan-kenangan indah dirinya saat masih tinggal di Kisaran, Sumatera Utara.
Papa menghela napas. “Dulu kamar ini ada yang tidur di sini. Sekarang… ya begini.”
Pak Damar tersenyum tipis. “Semua rumah punya fase sepertinya, Pak.”
Setelah pengukuran selesai, mereka turun. Di ruang tamu, Pak Damar duduk kembali. Ia mengeluarkan ponsel, lalu berkata pelan, seolah meminta izin untuk membacakan sesuatu.
“Saya mau jujur, Pak,” katanya pada Papa, lalu menoleh ke Firman.
Pak Damar lalu langsung membacakan sebuah pesan panjang yang tersimpan di ponselnya. Itu terdengar seperti sebuah catatan yang terdengar macam doa yang ditulis dengan tangan gemetar tapi imannya tetap tegak. Tentang dirinya yang bekerja kembali di bengkel sebagai QC, dengan gaji harian seratus sepuluh ribu rupiah, tanpa uang makan dan transportasi. Ia juga bercerita tentang bensin pulang-pergi sejumlah Rp 30.000 per hari, dengan jarak tempuh 60-70 kilometer. Tentang beras dan lauk yang habis, SPP anak yang belum terbayarkan, iuran RT/RW yang datang menyusup; belum lagi ada biaya koperasi, listrik, air, iuran gereja, dan... itu semuanya seperti tertulis dalam daftar yang panjang, jujur, dan melelahkan. Tentang rasa takut dan bingung seorang pria yang lebih tua dari Firman, yang diam-diam masih menyimpan asa. Asa akan sebuah keyakinan yang ingin terus dipeluk semesta.
Firman merasakan dadanya menghangat, bukan oleh churros, melainkan oleh sesuatu yang lebih dalam. Mungkin itu sejenis keberanian yang tenang.
Papa mengangguk, matanya sedikit berkaca. “Terima kasih sudah cerita, Pak Damar.”
Pak Damar tersenyum. “Saya cuma mau kerja baik-baik, Pak. Renovasi ini—kalau jadi—saya bakal kerjakan sepenuh hati.”
Papa menepuk meja pelan. “Rezeki itu ada jalannya masing-masing. Yang penting luruskan hati waktu bekerja.”