Warung itu baru buka seminggu, paling lama dua minggu. Spanduknya masih kaku, ujung-ujungnya belum benar-benar lurus. Lampu bohlam putih menggantung rendah, memantul di genangan air bekas hujan sore. Firman duduk di bangku plastik biru yang kakinya sedikit pincang. Di depannya, wajan besar berisi minyak mulai mendesis pelan.
“Nangka goreng satu, Bang. Sepuluh ribu,” kata Firman tadi.
Penjualnya merupakan lelaki berusia empat puluhan dengan kaus oblong dan celemek tipis. Ia langsung mengangguk sambil tersenyum lelah.
Saat potongan nangka dicelupkan ke adonan, hujan turun tanpa aba-aba. Bukan gerimis pembuka, melainkan yang langsung deras dan cukup berisik. Atap seng warung berisik oleh ketukan air. Bau minyak panas bercampur aroma nangka matang, manis dan sedikit asam. Firman menyandarkan punggung, menghela napas. Entah kenapa, hujan selalu membuat waktu terasa lebih lambat.
Ia mengeluarkan ponsel, menggulir Instagram. Sinyal agak naik-turun, tapi cukup untuk memuat story demi story. Lalu, nama itu muncul.
Gloria.
Story-nya berupa foto beramai-ramai. Gloria berdiri di tengah, tersenyum lebar. Di sampingnya ada seorang laki-laki bertopi dengan gaya santai seolah tak peduli kamera. Di sekeliling mereka, Andelia dan Kinan ikut merapat, ekspresi akrab khas reuni kecil yang tak diumumkan. Lampu ruangan hangat, mungkin kafe atau studio, sulit ditebak. Yang jelas, mereka benar-benar terlihat baik-baik saja. Terlihat bahagia dalam pengertian warganet, khususnya, warga Instagram.
Lagu yang dipasang membuat Firman terdiam lebih lama.
"Baby, baby, baby
bukan kamu,
Baby, baby, baby
cuma aku yang nunggu..."
Firman menelan ludah. Ia menekan story berikutnya. Masih mereka. Teks kecil muncul: "Miss these moments,". Tidak ada penjelasan lain.
Di kepalanya, pertanyaan lama kembali berisik. Apa sebenarnya sejak awal Gloria memang tidak punya perasaan apa-apa padanya? Sejak Mei 2020, sejak wajah perempuan yang ia sangka Gloria muncul di dalam otaknya, sejak suara-suara "Aku sayangnya cuma sama kamu" sering terdengar di dalam kepalanya. Jangan-jangan memang hanya Firman yang menaruh rasa, sementara Gloria sekadar ramah. Atau kasarnya, perempuan Tionghoa itu sekadar tidak enak menolak. Mungkin sejak awal, tak perlu ia seriuskan hal-hal tak kasatmata, yang ia kira itu dari Gloria. Waham, yah, hanya waham. Jangan terlalu diseriuskan. Siapa tahu ada yang jahil dengan dirinya, lalu mengganggunya dengan mengirimkan sesuatu tak enak ke pikirannya.
Atau bisa jadi, mengingat kebiasaan Firman sering tidur menjelang Maghrib, banyak makhluk gaib mendatangi Firman di dalam mimpi. Satu dari sekian makhluk gaib itu menyerupai Gloria, entah secara suara maupun wajah.