Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #22

Apa Jangan Dikejar Lagi?

Firman membaca ulang ulasan singkat itu pelan-pelan, seperti orang yang sengaja menekan memar sendiri untuk memastikan rasa sakitnya masih ada. Nama Airin terpampang jelas di atas paragraf yang menurutnya terlalu jujur, sembrono, dan amat tepat sasaran. Sakitnya ibarat membuat bokongnya terasa perih.

Ia duduk di ujung tempat tidurnya di sudut kamar. Jendela terbuka setengah. Angin sore membawa bau hujan yang baru saja berhenti. Ponselnya terasa panas di tangan. Layar Instagram masih menyala. Kalimat-kalimat Airin di status WhatsApp bagaikan menggantung seperti spanduk peringatan.

“Biasanya yang typing-nya senyum gitu tuh manipulatif, obsesif, dan psikopat. Fiks, no debat!”

Firman tertawa pendek. Bukan karena lucu, tapi karena tubuhnya refleks menertawakan sesuatu yang terlalu dekat dengan kenyataan hidupnya. Ia teringat betapa sering dirinya menutup kalimat dengan emotikon senyum. Apakah yang dituliskan Airin memang fakta yang valid, dan sulit terbantahkan?

Kadang untuk mencairkan suasana, kita perlu menarik diri dari keramaian. Kadang untuk menutupi gugup akibat pikiran berlebihan sendiri, kita harus mematikan seluruh gawai. Kadang, untuk terlihat baik-baik saja, padahal tidak, kita hanya...

...Firman coba menarik napas, lalu mengembuskan napasnya ke langit-langit kamar.

“Berarti gue psikopat, gitu?” gumamnya pelan, hampir seperti bercanda pada diri sendiri. "Apa yang ditulis sama Airim ini... bisa dibantah, kan?"

Ia tahu Airin tak sedang berbicara tentang dirinya. Mereka bahkan tak pernah bertemu, selain lewat media sosial. Hubungan mereka sebatas komentar, obrolan tulisan singkat, sesekali Firman meminta Airin membacakan tarot dengan tarif tak terlalu mahal. Namun entah kenapa ketikan Airin itu terasa seperti telunjuk yang diarahkan ke keningnya.

Firman menaruh ponsel di kasur, lalu bersandar. Matanya menatap langit-langit yang mulai menguning di beberapa sudut. Ia merasa lelah. Yang pastinya bukan lelah fisik, melainkan lelah mempertahankan harapan yang tak pernah benar-benar memiliki pijakan yang sempurna

Gloria. Nama itu muncul lagi, seperti notifikasi yang tak bisa dimatikan. Ia teringat betapa selama ini ia membangun hubungan yang bahkan tidak bisa disebut hubungan. Jangankan untuk disebut sebagai kekasih, bahkan Firman sulit sekali berkata Gloria itu bestie-nya. Sebab kenapa?

Ia tak memiliki nomor WhatsApp atau surat elektronik Gloria. Tak ada percakapan dua arah yang nyata. Semuanya bersifat waham. Firman pun tak pernah mengetahui alamat rumah. Tak ada janji bertemu, yang pastinya harus melalui manager-nya Gloria. Yang ada hanya story, mimpi, potongan simbol, suara batin yang belum pasti Gloria, dan tafsir yang terus beranak-pinak di kepalanya. Firman mulai tidak menyukai overthinking ini.

“Aku jatuh cinta sama siapa, sih?” tanya Firman pada dirinya sendiri. “Orangnya… atau bayangannya? Atau, mereka sebenarnya jin atau hantu nakal yang lagi nyamar jadi Gloria?”

Ia teringat Clarissa juga. Dengan caranya sendiri, Clarissa hadir sebagai kemungkinan. Namun kemungkinan yang juga tak pernah benar-benar mudah. Sama seperti Gloria, Clarissa hidup di wilayah yang bagaikan menggapai hal-hal yang di luar jangkauannya.

Lihat selengkapnya