Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #23

Padahal Yang Sebenarnya itu...

Firman duduk di bangku kayu panjang di teras rumah. Punggungnya bersandar malas, satu kaki diangkat ke atas bangku, satu lagi menyentuh lantai yang masih sedikit lembap sisa hujan sore tadi. Di tangannya, ponsel menyala dengan layar Facebook yang terus ia gulir tanpa tujuan jelas. Jempolnya bergerak otomatis, seperti mesin yang sudah kehabisan bahan bakar emosi tapi masih dipaksa berjalan.

Sampai sebuah status membuat gerakannya terhenti.

Nama itu muncul. Dari Cresthyna. Cici-cici yang menjadi rekan bisnisnya. Perempuan yang pernah beberapa kali kerja bareng Firman dalam urusan thrifting, usaha jasa titip (jastip), sampai jual beli pakaian murah yang sempat perempuan itu garap selama beberapa tahun. Orangnya cerewet, ceplas-ceplos, tapi sering terasa jujur. Kadang terlalu jujur. Itu yang Firman tangkap dari beberapa postingan Facebook Cresthyna.

Status itu pendek, tapi seperti tamparan.

"Pas pedekate, janji-janji menggiurkan. Pas udah jadian, ternyata syarat dan ketentuan berlaku.

Anak muda, anak muda.

Padahal, waktu muda, nggak gitu deh. Masih ada sama-sama berjuang."

Firman membaca ulang, dua kali, tiga kali. Ia mendengus kecil.

“Semua orang kayaknya lagi lomba nyindir aku hari ini,” gumamnya.

Entah kenapa, ia merasa status itu sedang berbicara langsung kepadanya. Tentang dirinya yang sering membangun janji di dalam kepala sendiri. Tentang harapan yang ia karang tanpa pernah benar-benar dikonfirmasi. Tentang pendekatan ke Gloria yang hanya hidup di ruang waham, dan bukan di dunia nyata.

Ia teringat masa-masa awal ia menyukai Gloria. Di tahun 2020, di masa pandemi, ketika semua orang dipaksa menjalani sistem work from home. Ia merasa dekat hanya karena sering melihat unggahan yang sama, mendengarkan lagu yang sama, hingga menafsirkan kata-kata yang sama. Dalam kepalanya, itu sudah seperti pedekate. Padahal, di dunia nyata, Gloria bahkan mungkin tak tahu siapa itu Firman Lubis.

“Pedekate yang semu,” ulang Firman lirih.

Apakah itu bisa dikatakan sebagai pedekate? Bahkan tak pernah diucapkan langsung ke Hloris. Semua hanya monolog batin.

Ia menekan layar, membuka kolom komentar. Jemarinya sempat mengetik, lalu berhenti.

"Kadang bukan janji yang salah. Tapi ekspektasi yang kebanyakan."

Ia menghapusnya. Tak jadi mengirimkannya sebagai balasan status Cresthyna. Cresthyna mungkin sedang curhat tentang hidupnya sendiri, bukan tentang Firman.

Firman mengunci ponsel sebentar, memandang jalan depan rumah. Seorang tukang bakso lewat sambil mendorong gerobak. Suara kentongannya beradu dengan suara motor yang melintas. Hidup terus berjalan, dengan atau tanpa drama di dalam kepala Firman.

*****

Lihat selengkapnya