Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #24

Cerita Seorang Selebgram

Firman berhenti mengunyah mi instannya. Garpu aluminium yang sedari tadi ia putar-putar di dalam mangkok bekas mi mendadak terhenti di udara. Uap tipis masih mengepul, membawa aroma kaldu ayam yang biasanya menenangkan, tapi kali ini justru terasa hambar di hidungnya.

Postingan Roni Eka itu seperti tamparan kecil yang pelan, tapi berulang-ulang. Kata-kata tentang penyekapan, pemukulan, penyiksaan mental, dan mimpi buruk yang datang setiap malam berputar-putar di kepalanya. Ia membaca ulang, pelan, lebih hati-hati. Bukan karena ia ragu pada ceritanya, tapi karena ada sesuatu yang membuat dadanya mengencang. Seperti ada perasaan tak nyaman yang sulit dijelaskan.

Firman menyandarkan punggung ke kursi plastik di teras rumahnya. Dinding yang mulai kusam, kipas angin ukuran mini yang terus berpacu, dan meja kecil penuh remah mi instan terasa semakin sempit. Ia menatap layar ponsel, lalu mengalihkan pandangan ke jendela yang tertutup tirai tipis. Dari luar, suara motor dan klakson menyusup masuk, membawa dunia nyata yang bergerak tanpa peduli pada tragedi orang lain.

“Dunia seni emang kreatif,” gumamnya pelan. Kata-kata itu menggelitik bagian sensitif dalam dirinya. Ia sendiri pernah bercita-cita ingin bekerja di dunia kreatif. Seperti menulis, membuat content, dan story-telling. Namun postingan tadi telah mengingatkannya bahwa dunia yang terlihat glamor di layar bisa menyimpan sisi gelap yang tak pernah ditampilkan.

Ia teringat pula pada Gloria. Pada Clarissa juga. Pun, pada semua bayangan hubungan yang selama ini lebih banyak hidup di kepalanya daripada di dunia nyata. Firman tiba-tiba merasa konyol memikirkan drama perasaannya sendiri, ketika ada orang yang benar-benar hidup dalam ketakutan, harus pindah kota, demi bisa memulai ulang hidup. Itu semata dilakukan hanya demi bisa bernapas lebih lega.

Ia kembali membaca bagian akhir postingan itu. Tentang proses hukum yang berliku. Tentang pelaku yang masih bebas, masih aktif bekerja, hingga masih bisa tersenyum riang tanpa rasa bersalah, di foto-foto Instagram milik si pelaku. Ada rasa marah dalam diri Firman, yang perlahan naik, tapi juga rasa tidak berdaya, karena ia tahu akan sulit untuk melawannya. Firman hanyalah penonton, seperti ribuan orang lain yang menggulir layar, mengetik komentar simpati, lalu melanjutkan hidup masing-masing.

Mi instannya sudah dingin ketika ia akhirnya menelan suapan terakhir. Ia menaruh mangkok kosong ke wastafel, membiarkan air mengalir sebentar, seolah ingin mencuci perasaan berat yang menempel di dadanya.

Kembali ke kamar, ia duduk di kasur tipis, memegang ponsel dengan dua tangan. Jemarinya sempat mengetik sesuatu di kolom komentar Thread itu.

“Semoga korban dapat keadilan...”

Namun Firman memilih untuk menghapusnya lagi. Terasa terlalu klise. Ia menggantinya dengan kalimat yang lebih sederhana:

“Semoga prosesnya dimudahkan dan korban diberi kekuatan untuk melanjutkan hidup.”

Setelah ragu beberapa detik, ia menekan kirim.

Entah kenapa, setelah itu dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Firman lalu membuka aplikasi catatan. Kebiasaan barunya sejak ia mulai serius menulis. Ia mengetik judul sementara:


Lihat selengkapnya