Tulis Bu Irawati sebagai status WhatsApp:
"Tugas seorang Ibu dimana2 hampir sama. Kerukunan sosial,pertemuan lingkungan, masak, bikin laporan. Eh, tahu-tahu, sudah jam dua. Bangun tetep aja pagi-pagi. Semangat mengajar. Apalagi ada pertemuan orangtua murid.
Sampai rumah langsung pegang setrikaan. Dan, setumpuk kerjaan menanti. Nek ora semangat sopo sing arep bekerjaa. Makane jangan dibiasakan mengeluh."
Kata-kata Bu Irawati itu sedikit menina-bobokan Firman yang dilanda kebingungan dari kejadian beberapa saat lalu.
Firman sedang berada di sebuah kafe yang berlokasi di Modernland, Tangerang. Namanya "Rockium Cafe and Billiard".
Beberapa saat yang lalu, saat ia memesan singkong Tailan, seorang ibu berjilbab dan mengenakan kemeja batik biru masuk. Baru duduk sebentar, ibu muda sekonyong-konyong berdeham cukup keras dan mengganggu Firman. Sekalinya Firman menatap, ibu itu seolah tak menyukai tatapan Firman. Galak sekali.
Setelah itu, kepalanya berisik lagi. Seperti suara ibu tadi, yang ada dalam kepalanya.
<Emang kamu bisa apa, sampai berani ngedeketin cewek artis bernama Gloria itu?>
<Bukan urusan Ibu!>
<Lah, kok kamu nyolot gitu? Mau saya dehemin lagi, agar kamu sadar?>
Status Bu Irawati itu masih terpantul di layar ponsel Firman ketika ia menurunkan tingkat kecerahan dan meletakkan gawai di atas meja kayu yang sedikit lengket oleh sisa sirup minuman pengunjung sebelumnya. Kalimat “makane jangan dibiasakan mengeluh” seperti tepukan pelan di punggungnya. Tidak menyelesaikan masalah, tapi cukup membuat dadanya yang sempit oleh pikiran-pikiran buruk agak longgar.
Di Rockium Cafe and Billiard, sore sepertinya mulai merayap masuk lewat kaca besar di sisi timur. Lampu gantung dinyalakan satu per satu, memantulkan warna kuning hangat di lantai keramik. Di lantai dua, terdengar sayup-sayup beberapa anak muda tertawa sambil memukul bola biliar. Di dekat kasir, mesin kopi berdengung seperti dengkur kucing tua.
Firman mengaduk es teh manisnya pelan-pelan. Sendok beradu dengan dinding gelas. Ritme itu menenangkan. Atau, setidaknya sampai suara deham itu kembali terngiang di kepalanya.
Firman kembali memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang lewat hidung, mengeluarkannya lewat mulut. Ia tahu suara itu mungkin bukan suara ibu berjilbab tadi. Itu suara makhluk gaib, mungkin saja seperti itu. Suara yang sering terdengar setiap kali ia merasa kecil, tak layak, dan sendirian.
Sekonyong-konyong seorang barista melirik sekilas ke arahnya, mungkin mengira Firman sedang menelepon seseorang lewat earphone tak kasatmata. Firman cepat-cepat menunduk, berpura-pura fokus ke layar ponsel.
<Mending tinggalin aja, cewek bernama Gloria itu>
Si ibu itu sekonyong-konyong berdeham dengan cukup keras. Tak hanya Firman, bahkan kasir dan pelayan kafe kaget. Mereka lalu memperhatikan si ibu, sementara si ibu berkata, "Maaf, lagi gatel tenggorokan saya."