Kala Firman sedang berteduh di binatu langganannya, sembari melihat-lihat foto-foto Gloria di dalam ponsel, Clarissa sedang berada di dalam sebuah studio musik. Dengan centilnya, ia menyanyikan calon single barunya. Berbeda dengan single-single sebelumnya, yang ini liriknya lebih ceria. Tentang indahnya jatuh cinta dan dicintai.
"Seneng banget, Cla," goda Firman Zulkarnaen, semacam pemimpin di label rekaman tersebut. "Dirimu keinget sama cowok itu?"
"Ih, apaan sih, Mas?" ujar Clarissa tersipu malu, mengepalkan tangan. "Yuk, fokus, fokus, sama project kita ini. Keep fighting!"
"Hahaha..." ujar Dirman Zulkarnaen. "roman-romannya lagi jatuh cinta, nih. Kayak orang lagi dimabuk asmara kamu, Cla."
"Masa sih?" tanya Clarissa sok mengerlingkan mata. "Aku cuma mau bantu teman sedikit aja, Mas."
Teman yang dimaksud adalah Gloria Hao. Terkait masalah Gloria dengan cogil resek, yang diam-diam Gloria naksir berat.
"Terus, kamu sendiri gimana?" tanya Firman Zulkarnaen nyengir. "Hatimu gimana? Masa mikirin orang lain terus? Sampai kapan ngorbanin kebahagiaan sendiri cuma demi sahabat kamu itu?"
Clarissa terdiam sejenak. Musik latar yang barusan diputar oleh sound engineer berhenti. Ruangan studio mendadak terasa lebih hening, hanya tersisa dengung AC dan bunyi klik mouse dari balik kaca operator. Ia mengusap lehernya, pura-pura merapikan rambut yang jatuh ke bahu.
“Mas Firman tuh suka kepo, deh,” katanya akhirnya, sambil tersenyum kecil. “Aku baik-baik aja, kok. Seriusan, Mas.”
“Tapi ekspresi kamu nggak bisa bohong,” sahut Firman Zulkarnaen, menyandarkan punggung ke sofa empuk di sudut ruangan. “Ini bukan Clarissa yang biasanya nyanyi lagu galau sambil nyengir-nyengir sendiri. Ini Clarissa yang lagi berbunga-bunga. Ada apa, Cla?”
Clarissa menatap lantai. Ada jeda beberapa detik, cukup lama untuk membuat Dirman—yang sedari tadi memegang ponsel—ikut menoleh.
“Aku cuma capek lihat Gloria kebawa-bawa urusan itu terus,” ucap Clarissa lirih. “Cowok yang kamu sebut tadi, Mas… si cogil itu. Dia udah bisa bikin Glo kepikiran. Padahal Glo lagi fokus kerja, proyek ini-itu. Aku cuma pengin dia baik-baik aja.”
“Dan kamu?” Firman Zulkarnaen menyela, nadanya lebih lembut. “Kamu baik-baik aja, nggak?”
Clarissa tertawa kecil, agak kaku. “Hatiku seratus persen aman, Mas. Cuman… ya, kadang capek jadi orang yang selalu jadi penyangga. Dengerin Gloria curhat, yang sambil nutupin air mata sahabat sendiri, tapi pas giliran aku lagi ngerasa sepi, aku malah sok kuat.”
Dirman mengangkat alis dan ikut menimpali, “Nah, itu dia. Kamu manusia juga, Cla. Bukan tameng sahabat sendiri.”
Clarissa menghela napas panjang. Ia menatap mikrofon di tengah ruangan, benda hitam mengilap yang sejak tadi menjadi pusat dunianya.