Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #28

Di Bawah Langit Malam yang Sama

Hujan turun tanpa aba-aba. Awalnya cuma rintik kecil yang mengetuk atap seng rumah kontrakan Firman, lalu berubah menjadi gemuruh panjang yang membuat langit seolah terbelah. Firman sedang rebahan di kasur tipisnya, punggung bersandar ke tembok yang catnya mulai mengelupas, jari-jarinya lincah menari di layar ponsel.

Derasnya hujan tidak menghalangi Firman untuk bermain Mobile Legends dalam mode Ranked. Dari EPIC III, bintang satu.Targetnya jelas. Agar menembus LEGEND V malam ini juga.

“Satu match lagi naik bintang,” gumam Firman sambil mengusap layar yang mulai lembap oleh keringat telapak tangan.

Hero pilihannya adalah Irithel. Marksman yang cepat, lincah, tapi juga rapuh kalau salah gerak. Match lalu dimulai. Musik loading bergema di speaker kecilnya. Di luar, hujan semakin deras. Beberapa kali terdengar decitan tikus. Suara alam bercampur dengan efek skill dan notifikasi tim: "Request backup!"

Firman fokus. Ia lompat dari dinding ke dinding, mengambil buff biru, coba mencuri turtle, lalu menghabisi mage lawan yang terlalu maju. Kill pertama. Dadanya terasa sedikit lega.

Namun di tengah permainan, notifikasi Thread muncul di bagian atas layar. Nama yang sudah beberapa kali ia lihat beberapa hari ini. Ornag itu adalah Mas Filipus.

Firman sempat ragu. Tapi saat hero-nya mati karena terkena gank dadakan, ia punya beberapa detik waktu respawn. Ia geser layar, membuka Thread.

Tulisan itu panjang, penuh jeda, penuh napas putus asa. Seolah Mas Filipus perlu dibantu.

"Duer!

Uang dari mana Rp 1,8 jutaan buat bongkar mesin motor yang mogok. Saya kerja saja baru hari ke delapan. Gajinya juga kecil, per hari dihitung Rp 110 ribu. Duh, bagaimana selanjutnya hari-hari ke depan?

Apa saya harus menyerah karena keadaan? Dan gagal lagi bekerja untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga kecil saya?

DC juga dar-der-dor teleponin melulu, padahal baru telat sehari. Beras di rumah juga udah habis.

Sepertinya lengkap amat derita saya. Tuhan Yesus kasihanilah saya dan keluarga saya."

Firman menelan ludah.

Respawn tinggal dua detik. Lalu ia memilih untuk menutup Thread, kembali ke game. Tapi fokusnya sudah pecah. Tangannya tetap bergerak, tapi pikirannya tertinggal di kata-kata Mas Filipus yang: “Beras di rumah juga udah habis”.

Team fight terjadi di mid lane. Ia masuk terlalu cepat, salah timing. Irithel-nya langsung tumbang karena terkena stun bertubi-tubi.

“Anjir, bego banget gue,” desisnya.

Hujan di luar semakin keras, seperti menertawakan kekacauan di dalam kepalanya. Ia meletakkan ponsel sebentar di dada, menatap langit-langit kamar yang kusam. Air hujan merembes sedikit dari sudut plafon, jatuh ke ember biru yang sudah ia siapkan sejak sore. Irama kecil penderitaan rumah kontrakan murah.

Ia membuka Thread lagi. Membaca ulang tulisan Mas Filipus. Firman teringat dirinya sendiri. Ia pun tak jauh berbeda dari Mas Filipus. Sampai sekarang malah. Tahu rasanya kesulitan keuangan, saat dirinya benar-benar membutuhkan uang. Tiba-tiba permainan Mobile Legends terasa, ah, mungkin terasa kurang menyenangkan lagi. Push rank terasa kurang menghibur. Otaknya lebih memilih menyeriusi urusan perut seseorang, yang tinggal di Bekasi sana.

Ponselnya kembali bergetar. Notifikasi WhatsApp masuk. Dari grup alumni SD Marius. Seseorang yang dulu bekerja di Tata Usaha sekolah itu mengunggah status:

“Keadaan apa pun tidak dapat menyurutkan semangat kita, jika fokus kita ke yang utama dan terutama.”

Lihat selengkapnya