Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #29

Selama Ada Kopi

Pagi itu langit masih menggantungkan sisa-sisa hujan semalam. Jalanan depan rumah Firman basah, memantulkan cahaya lampu warung yang belum sempat dimatikan. Dengan sandal jepit, Firman berjalan ke kios kecil langganannya. Tujuannya sederhana. Untuk membeli mi instan untuk stok dapur, dan nasi uduk untuk sarapan.

Ia berdiri di depan gerobak nasi uduk, mengamati uap panas yang mengepul dari dandang. Aroma santan, daun pandan, dan bawang goreng menyerbu hidungnya, membuat perutnya yang sejak subuh keroncongan ikut berisik.

“Yang biasa, Bu, nasi uduk, tempe orek, sama telur balado,” kata Firman.

“Siap, Bang,” jawab penjual sambil meraih piring.

Sambil menunggu, Firman menepi sedikit, membuka ponsel, dan mulai menggulir Instagram. Jempolnya bergerak otomatis, melewati story orang-orang yang memamerkan kopi mahal, outfit OOTD, dan kutipan motivasi generik. Sampai akhirnya ia berhenti di satu postingan.

Itu akun teman kuliahnya dulu. Namanya Riska—yang sekarang berjualan cincau. Di foto pertama, Riska berdiri di bawah gerimis pagi, menggendong anaknya, Timo. Di foto kedua, ada gelas plastik berisi cincau, es batu, dan sirup gula aren, difoto dengan angle sederhana tapi jujur. Tidak estetik ala kafe, tapi terasa dengan terlihat untuk Iman, setidaknya.

Takarirnya membuat Firman berhenti menggulir. Yang pertama, tertulis seperti ini:

Semoga hujan berkah di pagi hari diikuti oleh kesehatan, keselamatan, dan berkat melimpah buat kita semua."

Takarir kedua:

"Jika memang sesuatu itu terbaik buat kamu. One day kamu yang akan berhak dapat itu."

Takarir ketiga:

"Nggak perlu menginjak atau menusuk cuma buat mendapatkan sesuatu."

Takarir keempat:

"Selama ada kopi, dijamin hidup kita masih ada warnanya. Tidak gelap-gelap amat."

Takarir terakhir:

"Merendahlah serendah-rendahnya sampai tidak ada yang bisa merendahkanmu."

Firman membaca pelan, satu per satu. Ada typo, ada pula gaya penulisan yang berantakan, tapi entah kenapa terasa jujur. Bukan motivasi yang dibuat-buat juga. Lebih seperti suara orang yang benar-benar sedang bertahan hidup.

Ia mendadak teringat Riska di masa kuliah. Anak yang jarang sekali absen berkuliah. Kadang Riska suka debat di kelas, bercita-cita untuk bekerja di perusahaan multinasional. Sekarang, ternyata Riska memiliki pemikirannya sendiri, sehingga harus putar haluan. Lalu, dari foto itu, Raka tidak terlihat kalah. Tidak terlihat mengemis untuk sekadar menarik simpati. Wajahnya malah kelihatan tenang dan sangat bahagia.

Firman menghela napas pelan dan membaca ulang kata-kata yang tertulis, "Merendahlah serendah-rendahnya sampai tidak ada yang bisa merendahkanmu.”

Kalimat itu seperti mengetuk bagian dalam dadanya. Ia teringat dirinya sendiri. Terjebak antara mimpi untuk menjadi penulis besar, delusi tentang dunia tak kasatmata, obsesi pada Gloria, dan kenyataan bahwa uang di dompetnya sering kali lebih tipis daripada ego dan obsesinya kepada perempuan Tionghoa bernama Gloria Hao tersebut.

Ia lalu membandingkan dengan Riska yang aktif jualan cincau. Lalu ada Mas Filipus yang bekerja QC bengkel dengan gaji harian pas-pasan. Juga, masih ada orang-orang yang ia kenal sedang jungkir balik bertahan hidup. Sementara ia justru sering sibuk bertarung dengan pikirannya sendiri.

“Bang, nasinya siap,” suara penjual membuyarkan lamunannya.

Lihat selengkapnya