Firman duduk di sebatang pohon yang menghadap langsung ke Danau Buatan Modernland. Angin sore menggeser permukaan air, membuatnya beriak seperti kaca yang disentuh jemari tak kasat mata. Di tangan kirinya, sebungkus siomay masih mengepul. Siomay yang penuh dengan saus kacang mengkilap memantulkan cahaya matahari yang mulai condong. Di tangan kanannya, ponsel tak pernah benar-benar diam. Dunia Firman hari itu terbelah dua. Antara dunia yang beraroma ikan kukus dan kecap manis, serta dunia yang berkilat oleh notifikasi dan wajah-wajah di layar.
Ia menggigit siomay pertama, mengunyah pelan, lalu menggulir Thread dan Instagram. Foto terbaru Gloria muncul di beranda. ia mengenakan baju berwarna hitam dengan belahan dada agak terbuka, roknya berwarna biru tua, lalu rambutnya di-cepol. Selanjutnya, latar belakang kawasan yang cukup hijau. Takarir dari akun fanbase menyebut itu endorse pertama Gloria sejak ia graduate dari grup idola. Komentar mengalir deras. Ada yang memuji aura dewasa Gloria. Pun, ada yang menuduh manajemennya terlalu cepat melempar dia ke pasar iklan. Bahkan ada juga yang sekadar menyelipkan emoji api dan hati. Termasuk Firman yang menyelipkan emoji hati yang sedang jatuh cinta.
Firman menelan ludah, bukan karena siomay itu rasanya kurang enak, tapi karena pikirannya sendiri. Ada rasa bangga yang aneh, padahal ia bukan siapa-siapa bagi Gloria. Ia hanya penonton setia yang kebetulan menyimpan nama itu terlalu lama di dalam kepala.
“Endorse pertama,” gumam Firman. Kata itu terdengar seperti garis start baru, sekaligus gerbang yang makin menjauhkan jarak antara idola dan pengagumnya.
Ia menggulir lagi. Postingan Ryasa Breazza muncul, hitam putih dengan latar polos. Ryasa menulis:
"Berbela sungkawa tanpa perlu berasumsi. Berempati tanpa perlu memuaskan rasa penasaran. Doakan tanpa perlu bergunjing. Turut berduka cita yang terdalam."
Firman berhenti sebentar. Kalimat itu terasa seperti teguran lembut yang tepat waktu. Ia teringat Nula dan Azer Para, pasangan yang dulu sempat viral dengan kedekatan mereka yang membuat warganet sempat menjulukinya hot couple. Belum lagi Azer dengan produk topnya, yang bernama “Freaky Smart”—cara Azer mengemas content edukatif dengan gaya nyeleneh. Kematian Nula memantik spekulasi liar di linimasa. Ada yang sok tahu, ada yang berburu klik, ada pula yang menulis teori seperti sedang menulis skenario.
Firman menghela napas. Ia membayangkan betapa beratnya menjadi figur publik. Bahwa setiap tawa dicurigai, setiap diam dipelototi, setiap kabar dikejar seperti mangsa. Ia menatap danau, mencoba memindahkan beban itu ke permukaan air, untuk membiarkannya hanyut ke tepi danau buatan tersebut.
Scroll berikutnya memperlihatkan posting Mas Filipus:
"Terima kasih Tuhan Yesus. Kiranya kasih setia-Mu, Kau limpahkan kepadaku. Anugerah keuangan dari-Mu kurindukan selalu."