Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #31

Minggu Aneh untuk Firman dan Gloria

"Buat apa kalian ganggu Gloria?"

Begitulah yang dikatakan Firman dalam mimpinya. Sepulang dari ibadah minggu, Firman langsung tidur siang. Entah mengapa badannya terasa letih.

"Saya tidak kenal Gloria," ujar Firman cemas. "Jangan kalian sakiti Gloria dan keluarganya. Kalian salah orang."

Akan tetapi, mereka tak peduli. Salah satu dari mereka bahkan terus menerus meneror Firman dengan kata-kata sampah. Mereka menyakiti Firman. Hampir seluruh tubuh Firman disakiti dengan aneka senjata tajam.

"Ada harganya, Bung," ujar salah seorang yang mengaku ia sering menghubungi Firman dengan dalih sebagai pinjaman daring. "Kasih dulu duit lima ratus ribu, kalau mau pacaran sama Gloria Hao."

"Lagian Bung bisa apa?" desis seseorang lainnya, yang masih mengaku orang yang menelepon Firman dan terus membujuk Firman melalui suara batin, agar Firman mengangkat, lalu transaksi bisa segera dimulai. "Apa kau kira, Bung, Gloria mau sama kamu?"

"Selera saya bukan yang seperti Gloria itu," sangkal Firman agar tidak disakiti. Padahal yang sebenarnya Firman sangat mencintai perempuan Tionghoa tersebut. "Selera saya cewek bule. Yang pirang. Yang bahenol."

"MUNAFIK LO, BADUT!" seru yang lainnya, menampar Firman dengan sarung tinju yang entah mengapa terasa sakit sekali di pipi Firman. "SUKA, YAH, BILANG AJA SUKA! TAPI ADA HARGANYA!"

Firman terbangun dengan napas tersengal. Dadanya naik turun seperti habis berlari jauh. Bantal di bawah kepalanya basah oleh keringat. Ia menatap langit-langit kamar, mencoba memastikan dirinya benar-benar sudah kembali ke dunia nyata. Suara hujan di luar jendela menjadi jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak terlempar lagi ke lorong mimpi itu.

Ia duduk perlahan, meraih botol air di meja kecil, meneguknya sampai tenggorokan terasa dingin. Tangannya gemetar. Mimpi itu terlalu nyata. Rasa sakit di pipi seolah masih tertinggal.

Firman memejamkan mata sebentar, mengingat ulang kata-kata yang menampar lebih keras daripada tinju di mimpinya.

'Ada harganya, Bung...'

Kalimat itu berputar seperti kaset rusak. Ia teringat betapa sering dunia digital menjadikan segala sesuatu sebagai transaksi. Perhatian menjadi komoditas. Popularitas menjadi mata uang. Bahkan perasaan pun bisa dipaksa masuk ke etalase bisnis.

Ia mengusap wajah, lalu berdiri menuju kamar mandi. Air mengalir di wastafel, membasuh wajahnya yang pucat. Di cermin, ia melihat sorot mata sendiri yang lelah, tapi masih ada bara kecil yang menolak padam.

“Ini cuma mimpi,” bisik Firman. “Aku nggak bisa dikendalikan oleh ketakutan yang belum tentu nyata.”

Lihat selengkapnya