Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #32

Cara Firman Memandang Kehidupan dan Gloria

Firman membacanya pelan-pelan, sambil bersandar di kursi plastik biru di teras rumah. Angin sore membawa bau tanah basah sisa hujan siang tadi. Postingan Rasyina itu seharusnya lucu. Tentang rumitnya administrasi di Jepang, tentang nama yang dipotong-potong oleh sistem bank, hingga tentang furigana dan romaji yang seperti teka-teki silang. Entah kenapa, di kepala Firman, tulisan itu justru terasa seperti cermin kecil yang memantulkan keruwetan hidupnya sendiri.

“Nama aja bisa beda-beda tergantung sistem,” gumamnya. “Apalagi perasaan.”

Ia teringat betapa di dunianya sendiri, ia juga memiliki tiga versi dirinya. Versi pertama adalah versi Firman yang di rumah. Versi ini juga versi anak yang diminta patuh dan tidak banyak bermimpi. Lalu ada versi Firman yang di media sosial, yang mencoba terlihat santai, sok lucu, dan sok kuat. Terakhir, versi Firman di kepalanya sendiri, yang penuh waham, penuh bayangan, penuh dialog-dialog tak terlihat, dan acap disebut psikopat. Semuanya masih bernama Firman, tapi rasanya bukan orang yang sama.

Ia menutup Thread sebentar, menatap layar ponsel yang menggelap. Lalu, seperti kebiasaan yang sudah refleks, ia membuka Instagram.

Story pertama muncul. Dari perempuan seleebrita yang disukai Firman. Namanya Gloria. Sudah sejak 2019, Firman naksir berat ke Gloria. Baginya, Gloria itu perempuan yang berbeda. Setiap tersenyum, Gloria mendadak menjadi lebih cantik. Betapa Firman jatuh cinta dengan Gloria Hao tersebut.

Firman menegakkan badan. Di layar, Gloria berdiri bersama Nadiva dan Veronica. Mereka berpose di depan cermin toilet sebuah kafe atau restoran mahal. Jelas mahal. Lihat saja lampu putih yang terang benderang, yang bisa ditaksir itu harganya di atas UMR Tangerang. Belum lagi wastafel marmer dengan pantulan kaca yang bersih. Di luar perkakas mahal tersebut, ketiga perempuan itu kompak mengenakan outfit serba hitam. Gloria mengenakan blazer hitam dengan inner putih tipis, rambutnya dibiarkan terurai, sehingga membuat wajahnya terlihat semakin menawan. Nadiva, di sebelah kiri, yang mengangkat ponsel. Lalu ada Veronica, di kanan, membuat tanda peace kecil.

Caption-nya singkat: “Black mood, good mood.”

Disertai emoji 🖤✨.

Firman menghela napas panjang. Ada rasa kecil yang mencubit dadanya. Bukan cemburu yang meledak-ledak, melainkan semacam sadar diri yang terasa pahit.

“Dunia dia indah betul,” pikir Firman. “Toilet aja bisa se-glowing gitu. Persis kayak kulitnya Gloria, yang indah banget kelihatannya. Hidupnya juga Instagram-able banget. Sementara hidup aku… kayak hape QWERTY itu.”

Ia memperbesar foto itu. Menatap detail kecil, dan terlihat kuku Gloria yang dirias dengan warna kesukaannya: ungu. Lalu, jam tangan tipis di pergelangan tangan Gloria. Belum lagi, ada ttas kecil hitam yang tergantung di bahunya Gloria, yang ada tulisan nama merek tas yang terkenal. Ia membayangkan suara tawa mereka di balik foto tersebut. Mungkin Gloria sedang tertawa lepas. Pun, mungkin Nadiva sedang menceritakan hal konyol. Atau, mungkin Veronica mengeluh tentang pekerjaannya, yang bisa saja sibuk mengurus bagaimana Nadiva menjadi host untuk acara penyambutan pesepakbola keturunan bernama Rayne Pattynama. Hal-hal normal saja, apalagi untuk ukuran dunia showbiz. Meski normal, tetap saja, bagi Firman, dunia itu terlalu gemerlap untuk dimasuki.

Di saat yang sama, postingan Rasyina kembali terngiang di kepalanya.

“Aku punya tiga bank account dan masing-masing account namanya beda-beda…”

Firman tersenyum miris dan berkata seolah Rasyina sedang berada di dekat dirinya, “Kamu pusing karena nama di bank beda-beda. Aku justru pusing karena mood aku sendiri yang lagi nggak konsisten.”

Ia menggulir lagi. Ada komentar dari orang-orang yang memuji story Gloria:

Lihat selengkapnya