Firman bermimpi ia berdiri di ambang pintu sebuah ruangan berwarna krem muda, berbau pendingin ruangan dan kopi saset. Di dalamnya, kakaknya, Irma, duduk di kursi putar dengan sandaran tinggi. Di atas meja kerjanya ada map-map berlabel warna pastel, tumpukan buku psikologi pendidikan berbahasa Inggris, dan sebuah wadah plastik bening berisi potongan jeruk dan pepaya.
Irma tampak santai. Ia menyelipkan kacamata ke atas kepala, mengunyah jeruk sambil membaca laporan konseling seorang siswa. Beberapa saat sebelumnya, Firman melihat seorang office boy berseragam biru tua masuk sambil tersenyum sopan.
“Bu Irma, ini buahnya ya, katanya.
“Wah, makasih, Pak Deni,” jawab Irma ceria. “Ada jeruk sama pepaya. Komplit vitamin C dan A, nih.”
Pak Deni tertawa kecil lalu keluar. Irma kembali ke mejanya, membuka catatan sesi konseling. Sesekali ia berhenti membaca, memandangi jendela besar yang menghadap lapangan sekolah. Anak-anak dengan seragam rapi, terlihat berlari kecil menuju kelas. Ada yang tertawa. Pun, ada yang berjalan cepat sambil memegang tablet.
Firman merasa aneh. Ia ingin menyapa kakaknya, tapi suaranya seolah tenggelam. Ia hanya bisa memperhatikan Irma yang tampak tenang, mapan, dan berada di dunianya sendiri. Sungguh dunia orang-orang yang bekerja di balik meja, dengan jadwal rapi, ruangan ber-AC, dan buah gratis dari kantor.
Tiba-tiba suara hujan mengguyur keras. Bukan lagi suara di mimpi, melainkan suara nyata yang menampar kesadarannya.
Firman terbangun.
Jam di ponselnya menunjukkan pukul 14.37. Hujan turun deras di luar kamarnya, memukul atap seng dan jendela seperti ribuan jari kecil yang mengetuk. Lampu kamar masih mati. Ia meraba ponsel, membuka layar, dan refleks menggulir media sosial.
Linimasa terasa sepi. Hanya sesekali muncul iklan dan story teman-teman yang masih aktif. Ia lalu pindah ke WhatsApp. Ada satu pesan baru yang masuk dari Linda, rekan lamanya yang kini menetap di Pematang Siantar dan membuka usaha nail art dengan nama Manalu Nail Art.
Pesan itu sederhana, tapi terasa berat dan hangat sekaligus.
“Jadikan Tuhan tetap nomor satu, maka Tuhan akan membuka jalanmu satu per satu.
Amsal 3:6, ‘Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.’”
Firman membaca pelan. Ia mengulanginya sekali lagi, kali ini dalam hati. Entah kenapa, pesan itu terasa pas dengan mimpi barusan. Tentang Irma yang hidupnya tampak lurus, teratur, seolah relnya sudah terpasang rapi.