Firman berdiri setengah bersandar di pagar pembatas area duduk AEON BSD, gelas matcha latte dari Sekopi-Sejiwa masih mengepul tipis. Warna hijaunya pekat, pahit-manisnya menempel di lidah. Ia mengaduk pelan dengan sedotan kertas, lalu menyesap lagi, sambil ibu jarinya sibuk menggulir Instagram dan Threads yang saling tersambung di notifikasi.
Postingan tentang anak-anak kuliahan yang sedang menawar masker dan totebag itu muncul tepat setelah ia membaca story temannya yang pamer diskon sepatu. Iman mendengus kecil. Ia pernah mengalami hal yang sama. Dua tahun lalu, di mal yang berbeda, ada sepasang anak muda berpakaian rapi, name tag menggantung di leher, bicara manis tentang donasi pendidikan. Saat itu Iman hampir luluh. Untungnya dompetnya lagi tipis. Ia hanya beli satu totebag msatu, yang belakangan baru ia sadari kualitasnya tak sebanding dengan harga.
Ia membaca lagi kolom komentar. Ada yang mengangguk setuju, ada yang curiga, ada juga yang membela, katanya tidak semua begitu. Firman menggeser ke klarifikasi pihak mal. Ada permohonan maaf, imbauan waspada, hingga saran agar melapor ke petugas. Kalimatnya rapi, formal. Ia berhenti di komentar panjang seorang ibu yang menjelaskan tentang aturan booth, izin kampus, dan transparansi aliran donasi.
“Masuk akal,” gumam Iman.
Ia meneguk matcha terakhir, rasa pahitnya mengingatkan pada obrolan-obrolan lama di tongkrongan. Ada tentang empati yang sering diperdagangkan. Tentang rasa bersalah yang dijadikan alat transaksi. Tentang wajah-wajah lugu yang kadang memang tulus, kadang hanya perantara sistem yang tak jelas.
Di bangku sebelah, dua mahasiswa berbincang sambil tertawa. Salah satu dari mereka memegang map transparan. Iman melirik sekilas. Ada logo kampus di sudut map. Ia jadi teringat dirinya sendiri, masa-masa kuliah ketika harus ikut bazar kampus, jualan makanan ringan demi nilai kewirausahaan. Bedanya, dulu semua dilakukan di lapak resmi, ada spanduk fakultas, ada dosen yang mondar-mandir memastikan tak ada yang nakal.
Ponselnya bergetar. Notifikasi dari Dave muncul di WhatsApp.
“Bro, lu liat thread yang lagi viral nggak? Yang soal anak-anak kampus nawarin dagangannya. Gue jadi mikir, kalo empati sekarang tuh kayak barang dagangan.”
Firman tersenyum kecil. Ia mengetik cepat: “Iya, yang ada cuma empati instan. Tinggal swipe up, transfer, selesai. Tapi transparansi sering bolong, malah.”
Ia menatap langit-langit mal yang tinggi, lampu-lampu putih menyala seperti bintang buatan. Di bawahnya, manusia bergerak seperti arus. Ada yang belanja, ada yang nongkrong, ada yang kerja sambilan, ada yang sekadar lewat. Semua membawa cerita masing-masing.