Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #36

Mimpi Buruk Airin dan Aktivitas Jogging Roni

Firman berdiri di samping gerobak Sekopi-Sejiwa, memegang gelas plastik tinggi berisi matcha latte dingin yang masih mengeluarkan embun tipis. Sedotan hijau muda menyembul, bergetar kecil setiap kali angin sore menyapu area Danau Buatan Modernland. Matahari sudah condong, menciptakan garis keemasan di permukaan air. Di seberang sana, beberapa orang tampak asyik memancing. Para pemancing itu terlihat tenang sekali dan penuh kesabaran, seolah dunia sedang berjalan lambat khusus untuk mereka.

Firman menyeruput matcha latte-nya pelan. Rasanya creamy, agak pahit di ujung lidah, tapi menenangkan. Ia duduk di bangku besi dekat pagar danau, membuka WhatsApp. Status demi status bergulir, hingga ia berhenti di satu nama yang familier. Itu adalah Airin, teman daringnya yang anaknya sudah berusia dua tahun.

Tulisan Airin panjang. Terlalu panjang untuk ukuran status. Firman menarik napas kecil sebelum membacanya. Anehnya, terasa begitu nyata.

Tulis Airin:

"Kenapa ya, tiap aku ada planning mau naik kereta, pasti aku selalu mimpi keretanya kecelakaan?

Walaupun dalam mimpi, aku dan anakku sepertinya tidak apa-apa. Tapi suamiku gimana? Aku terbangun karena itu. Aku meneriakkan namanya. Kencang sekali. Yah, namanya aku kan sayang banget sama Hubby."

Firman otomatis menegakkan punggungnya. Angin sore terasa lebih dingin di kulit lengannya.

Ia membaca perlahan, baris demi baris. Ada tentang kereta yang mirip Whoosh. Tentang bangunan yang roboh. Pun, tentang rasa was-was berada di bawah jalur layang. Tentang mimpi yang berulang, itu juga diceritakan oleh Airin. Yang paling menarik perhatian Firman adalah yentang Tragedi Bintaro 1987 yang tiba-tiba muncul dalam tidur Airin, padahal ia mengaku tak pernah menonton film atau membaca detail peristiwanya.

Firman menelan ludah. Ada sesuatu yang selalu terasa ganjil setiap orang bercerita tentang mimpi yang terlalu nyata. Ia sendiri pernah mengalaminya. Suatu mimpi yang meninggalkan jejak berat di dada, seolah bukan sekadar bunga tidur.

Ia menyeruput matcha lagi, kali ini agak panjang, mencoba menetralkan perasaan yang mendadak mengambang. Di depan matanya, seorang bapak tua menarik pancing perlahan. Umpannya kosong. Ia tersenyum tipis, lalu memasang ulang kailnya. Ia begitu sabar dan tidak mengumpat. Tidak mengeluh juga. Firman mendadak iri pada kesederhanaan ritme hidup seperti itu.

Ponselnya bergetar. Bukan dari Airin, tapi dari Roni.

Sebuah video muncul di status Roni. Sebuah footage slow-motion dirinya berlari di tepi pantai, dengan musik motivasi yang dramatis. Matahari terbit di latar belakang, pasir basah memantulkan cahaya jingga. Di tengah video, muncul teks besar:

CHASE YOUR DREAMS.”

Lalu di akhir video, terdengar suara temannya yang sengaja tidak disunting:

“Larinya kok di situ mulu, Bang?”

Firman hampir tersedak matcha. Ia menahan tawa dengan menutup mulut. Kontrasnya terlalu absurd. Karena ada visual inspiratif ala content creator, yang segera dipatahkan oleh komentar jujur khas anak tongkrongan Jakarta Selatan.

Lihat selengkapnya