Ketik Clarissa di X:
"Nanti pasti ada, kok. Yang terima kamu apa adanya, nggak menghukum kamu dengan silent treatment, nggak main PS waktu kamu nangis, nggak merasa diajak perang karna bahas hal yang memang belum tuntas. Pasti ada."
Begitu tulis Clarissa di akun X Clarissa. Firman membacanya saat beristirahat sejenak di dekat gerai es krim. Membacanya saja, itu membuat Firman overthinking lagi. Sepertinya, menurut opini Firman, sedang menasehati Firman. Tentang hubungan Firman dan Gloria yang dijalank secara diam-diam dan misterius. Mungkin seperti itu.
Firman lalu membacanya lagi.
"Perjalanan untuk kembali terhubung dengan diri sendiri itu emang sulit sih. Tidak ada lukamu yang sepele, apapun trigger-nya, pasti bisa disembuhin pelan-pelan. Be gentle with yourself. Diproses satu per satu. Sit with your pain."
Firman terenyak. Ia bergumam lebih ke arah untuk dirinya sendiri, "Clarissa ini nulis soal dan buat siapa? Kok aku kayak lagi ngerasa disindir?"
Kemudian Firman kembali membacanya lagi.
"Gak tahu pengen nge-tweet aja. Bukan bridging lagu baru. Belom waktunya. Cuma pengen share apa isi kepalaku sekarang."
Peluk malem ini. Tidurnya yang nyenyak, yah!"
Firman menghela napas panjang. Es krim di tangannya mulai mencair, menetes pelan ke tisu yang ia selipkan di bawah cone. Suasana di sekitar gerai masih ramai. Ada anak-anak yang tertawa. Ada pula pasangan muda yang asyik berfoto. Pun, ada suara musik pop dari speaker mal mengalun lembut. Namun di dalam kepalanya, suasana terasa jauh lebih sunyi.
Ia duduk di bangku panjang dekat pagar kaca, memandangi lalu lalang orang. Tweet Clarissa terus berputar-putar di kepalanya, seperti kaset rusak yang tak mau berhenti. Ada bagian dari dirinya yang ingin mengabaikan, menganggap itu hanya tulisan random seseorang di internet. Namun ada bagian lain yang terasa tertusuk pelan, seperti disentil tepat di titik yang selama ini ia tutupi rapat-rapat.
“Yang terima kamu apa adanya…” gumam Firman lirih.
Ia tersenyum kecil, getir. Apa dirinya sendiri sudah benar-benar menerima dirinya apa adanya?
Tangannya reflek membuka chat Gloria, tapi jarinya berhenti di atas layar. Ia ingat obrolan mereka yang sering terpotong, balasan yang kadang datang lama, perasaan canggung yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Semuanya terasa seperti hubungan setengah jadi. Yang tidak sepenuhnya nyata, tapi cukup nyata untuk membuat hatinya gelisah tak keruan.
Firman menutup aplikasi itu tanpa mengetik apa pun. Ia lalu membuka catatan di ponselnya. Sudah lama ia tak menulis untuk dirinya sendiri. Biasanya ia menulis novel, takarir, atau membuat video konyol. Namun jarang menulis perasaan mentahnya sendiri.
Ia mengetik:
“Aku capek pura-pura kuat. Capek menebak-nebak isi hati orang. Capek merasa harus jadi versi yang pantas supaya disukai sama lawan jenis.”
Ia berhenti sejenak. Jarinya gemetar sedikit. Lalu ia lanjut.