Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #40

Firman yang sedang Menggalau

Hari ini datang tanpa tanda. Hanya notifikasi yang jatuh pelan di layar ponsel Firman. Judul lagu berganti, satu per satu, seperti jejak kaki di lorong yang ia kenal tapi tak pernah ia masuki sepenuhnya.

Sebuah lagu muncul pertama. Firman berhenti, menatap layar. Lagu pertama ini bukan tentang janji besar. Hanya tentang jeda. Tentang mengakui bahwa waktu bukan garis lurus, melainkan lingkaran yang kadang berpapasan. Firman menaruh ponsel di dada, menghela napas, seolah lagu itu sedang berbicara kepadanya. Atau kepada seseorang di seberang sana.

Malamnya, seseorang memainkan lagu. Iramanya nyaman didengar. Senja selalu membuat Firman berpikir tentang sudut-sudut. Di sana ada bangku halte, kafe kecil, atau obrolan yang tak pernah selesai. Lagu itu seperti mengajak berdiri di tepi hari, menunggu siapa pun yang mungkin lewat. Ia menulis satu baris di catatan:

“Ada rindu yang tidak minta dibalas, hanya ingin diakui.”

*****

Jumat bergulir dengan ragu yang sama. Seseorang di dekatnya, memainkan lagu dari laptop. Firman tersenyum pahit. Kenangan memang bukan foto. Ia seperti suara yang tiba-tiba muncul saat sunyi. Kenangan juga bisa menyamar sebagai lagu yang diputar orang lain, dan entah kenapa terasa ditujukan kepada dirinya.

Kafe yang ia datangi, memasang lagu. Judulnya seperti peringatan. Firman sekonyong-konyong menutup mata. Ia ingat nasihat yang sering ia abaikan: jangan memaksa makna dari hal-hal yang mungkin hanya kebetulan. Namun rindu, jika tidak dipaksa, apakah ia akan hilang? Atau justru tinggal lebih lama?

*****

Sabtunya, dari luar sana, seseorang memainkan lagu klasik. Firman sebentar mengintip. Orang itu memesan bubur ayam sambil menyetel lagu cukup kencang. Firman memikirkan lagu itu baik-baik. Bahwa sebelum terang, ada gelap yang jujur. Sebelum kepastian, ada keberanian untuk mengakui ketidakpastian.

Pelan-pelan Firman iseng mendengarkan obrolan orang-orang di sekitar dirinya. Obrolan mereka sangat mengalir. Yang panjang, berlapis, seperti sungai kecil yang menyusup ke ingatan. Itu tak jauh berbeda dari lagu-lagu lain yang pernah singgah di kepalanya. Ada yang berbicara tentang jatuh tanpa suara. Ada pula yang lebih mirip selebrasi perjalanan daripada janji cinta. Pun, ada yang tentang kelelahan mencinta. Tentang tarik-ulur cinta. Antara ingin dan masih ragu. Hingga lagu yang sederhana, ringan, tapi jujur; tentang perasaan yang enggan diucapkan.

Firman membaca semuanya seperti kode. Namun ia juga belajar menahan diri dari kesimpulan.

*****

Malam Sabtu itu, mimpi itu datang lagi.

Lihat selengkapnya