Selepas bergereja, Firman tidak langsung pulang. Ia berjalan pelan menyusuri trotoar yang masih lembap oleh sisa hujan pagi. Kemeja putihnya belum diganti, tas selempang masih menggantung di bahu, dan pikirannya belum sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Yang seperti biasanya. Meski untuk hari ini, agak berbeda. Seperti ada semacam jeda setelah ibadah, ruang kosong yang sering ia isi dengan kopi dan kesendirian.
Kenangannya Kopi berdiri di sudut jalan, tak terlalu besar, tapi selalu ramai oleh orang-orang yang tampak sedang mencari sesuatu. Entah itu mencari nspirasi, pelarian, atau sekadar colokan listrik. Firman masuk, memesan americano hangat, lalu duduk di kursi dekat jendela. Dari sana, ia bisa melihat lalu lintas pelan, motor-motor berhenti di lampu merah, dan wajah-wajah yang seolah punya cerita masing-masing.
Ia membuka ponsel. Kebiasaan buruk, tapi sulit dihentikan.
Linimasa bergerak cepat. Potongan opini, debat kusam, dan satu topik yang beberapa hari ini ramai kembali muncul. Tentang seorang aktris terkenal yang sempat menghebohkan publik karena mengunggah status open to work di LinkedIn. Banyak yang bereaksi berlebihan. Ada yang sok prihatin, ada yang nyinyir, ada juga yang tiba-tiba merasa paling paham tentang dunia kerja kreatif.
Firman mengaduk kopinya pelan. Ia ingat betul bagaimana beberapa hari kemudian, Pretty itu segera meminta maaf. Katanya, ia sebenarnya sedang menerima pekerjaan dari sebuah produk pasta gigi. Bukan menganggur, bukan sedang bangkrut, atau bukan pula sekadar bermain drama di dunia nyata. Hanya salah persepsi yang terlanjur digoreng ke mana-mana.
Firman tersenyum kecil. Dunia memang cepat sekali menempelkan label.
Ia membayangkan betapa lelahnya hidup di bawah sorotan. Satu unggahan bisa berubah jadi pengadilan massal. Padahal, di balik layar, semua orang sama saja. Entah mengapa, di pikiran Firman, semuanya terlihat ragu, punya cemas, dan kadang hanya ingin jujur tentang fase hidupnya.
“Bang, gulanya ditambahkan?” suara barista menyadarkannya.
Firman mengangguk. “Iya, boleh... eh, makasih banyak juga”