Langit sore di Modernland tampak muram ketika Firman duduk berhadapan dengan Rusmana di 69 Coffee. Tempat itu tidak terlalu besar, tapi cukup ramai oleh obrolan para pekerja lepas dan pebisnis kecil yang mencari Wi-Fi stabil dan suasananya tenang.
Firman memesan cappuccino. Rusmana tetap setia dengan kopi tubruk tanpa gula.
“Gimana penjualan Alcormium minggu ini?” tanya Rusmana sambil membuka laptop. Di layar terlihat spreadsheet berisi daftar reseller dan target penjualan ekstrak ikan gabus tersebut.
“Lumayan sih, tapi pikiranku lagi nggak fokus,” jawab Firman jujur.
Rusmana tersenyum tipis, bertanya, “Soal Gloria lagi?”
Firman diam sebentar. Ia tidak pernah benar-benar menceritakan detail kegelisahannya ke banyak orang. Namun Rusmana termasuk yang tahu separuh ceritanya.
“Kamu overthinking lagi?” lanjut Rusmana.
Firman mengangguk pelan. “Aku lihat foto dia makan malam sama Takeshi sama bapaknya di restoran mewah. Orang-orang langsung rame. Ada yang bilang cocok, kenapa gak jadian aja. Ada yang bilang kayak pertemuan antara keluarga calon mantu.”
Rusmana terkekeh kecil. “Fir, kamu harus paham satu hal. Risiko jadi artis itu memang begitu. Jalan bareng lawan jenis aja dipermasalahkan. Makan bareng dibilang pacaran. Syuting bareng, kadang di-judge sebagai cinlok.”
Firman menatap meja, lalu berkata, “Tapi tetap aja… sakit dikit.”
Rusmana menyesap kopinya dan membalas, “Bisa saja cewek bernama Gloria itu lagi dalam proses syuting bareng anak artis itu. Di dunia acting, ada yang namanya pendalaman karakter. Si artis kayak diwajibkan buat bikin chemistry dia jadi kuat sama lawan mainnya.”
Firman terdiam.
“Apa kamu tahu soal metode acting?” lanjut Rusmana. “Ada yang sampai makan bareng, ngobrol panjang, bahkan nongkrong sama keluarga lawan mainnya supaya feel-nya dapet. Supaya pas di layar, penonton lihat acting-nya natural.”
“Jadi menurut Akang… itu biasa aja?”
“Dalam konteks profesional, maksudmu, Man? Biasa banget, ah, buat aku.”