Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #45

Khayalan Firman tentang Gloria

Firman terbangun. Di jam dua subuh lagi. Kebetulan hari ini Valentine.

Sekonyong-konyong ia mengambil buku harian yang tersimpan di rak bukunya. Mengambil pulpen dan mulai menulis.

✍️

Seandainya Gloria Hao itu pacarku dan kami berkencan.

Hari itu pasti seperti mimpi. Seandainya Gloria benar-benar pacarku, mungkin beginilah aku akan menuliskannya di buku harian.

Aku masih ingat betul, sore itu aku menunggu di lobi Plaza Indonesia. Jantungku berdebar, bukan karena suasana mall yang ramai, tapi karena sebentar lagi aku akan bertemu dengannya. Gloria Hao. Ya, pacarku. Menuliskannya saja rasanya masih tak percaya.

Dia muncul dari arah pintu masuk, dengan gaya sederhana. Ia mengenakan sweter kebesaran, celana jins, dan tote bag. Tidak banyak riasan wajah, tapi entah kenapa justru itu yang membuatnya terlihat semakin cantik. Dia tersenyum kecil begitu melihatku, lalu berjalan cepat dan menggenggam tanganku.

Sorry ya, aku telat dikit,” katanya.

Aku hanya bisa menggeleng, karena jujur, aku masih sibuk menahan degup jantungku.

Kami memutuskan untuk menonton film. Di perjalanan menuju XXI, beberapa orang mengenalinya. Ada yang sekadar berbisik, ada juga yang memberanikan diri minta foto. Aku sempat merasa canggung, seperti menjadi pengawal pribadinya. Namun dia menoleh padaku dan berkata pelan, “Aku seneng kok, kalau kamu ada di samping aku, jadi nggak merasa sendirian.”

Kata-kata itu sangat menenangkan aku.

Di dalam bioskop, kami duduk berdampingan di bangku tengah. Gelap, dingin, dan nyaman. Aku lebih sibuk memperhatikan ekspresinya daripada filmnya. Caranya tertawa, caranya menutup wajah dengan tangannya saat adegan cringe, sampai caranya melirikku sambil berbisik, “Lucu banget, ya?”

Semuanya terekam jelas di kepalaku.

Setelah film, kami mampir makan di Din Tai Fung. Dia pesan xiao long bao favoritnya, sementara aku memilih nasi goreng kepiting. Di meja itu, obrolan kami mengalir seperti sudah kenal bertahun-tahun. Ia bercerita soal kesibukan, dunia hiburan, sampai rasa lelah karena harus selalu terlihat sempurna. Aku hanya mendengarkan dengan serius, lalu berkata, “Kalau sama aku, kamu nggak perlu pura-pura kuat. Jadi diri kamu aja.”

Lihat selengkapnya