Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #47

Open to Work versi Pretty dan Clarissa

Kembali Firman membaca apa yang di-posting perempuan artis bernama Pretty Levenubun itu di LinkedIn.

💻

Pretty Levenubun

Ke-3+

Aktris | Produser | Duta Merek Sensadent

Hai semuanya!

Jangan kaget dulu ya. Aku menyalakan badge #OpenToWork bukan karena kekurangan aktivitas, tapi karena lagi ingin belajar hal baru.

Selama ini banyak berkutat di industri film dan management business. Sekarang aku penasaran untuk challenge diri di ruang yang berbeda, kayak offline sales experience. Ketemu orang langsung, ngobrol, memahami kebutuhan mereka, sampai belajar bagaimana sebuah produk benar-benar diterima dan dirasakan langsung oleh konsumen.

Masih dalam fase eksplorasi dan terbuka untuk ngobrol.

Senang bisa terhubung!

⌨️

Beberapa waktu lalu, Pretty menulis status "Siap Bekerja" di LinkedIn. Publik dibuat kaget. Sama seperti warganet lainnya, Firman, yang sedang makan mi ayam sambil duduk di salah satu ruko kosong, bertanya-tanya. Kenapa seorang figur publik cari kerja seperti kebanyakan orang di LinkedIn? Apalagi sempat disebut terbuka untuk posisi sales.

Firman mengusap dagunya pelan. Mi ayam di mangkuk sudah tinggal separuh, tapi pikirannya malah penuh. Ia membaca ulang nama itu seolah berharap ada konteks tersembunyi yang terlewat. Seorang aktris besar, produser, wajah yang hampir tiap minggu muncul di layar, tiba-tiba membuka kemungkinan jadi sales? Rasanya seperti melihat kapten kapal pesiar ingin belajar mendayung perahu kayu.

“Beneran gak sih?” gumam Firman.

Ia membuka kolom komentar. Isinya campur aduk: ada yang mendukung, ada yang bercanda, ada pula yang skeptis. Namun yang paling menarik buat Firman justru komentar-komentar dari pekerja biasa. Yang mana orang-orang yang benar-benar hidup dari target penjualan, komisi, dan senyum profesional yang harus tetap menyala meski hati sedang lelah.

Satu komentar berbunyi: “Kak, dunia sales itu keras tapi mengajarkan empati. Kalau jadi, semoga kamu kuat.”

Firman berhenti mengunyah.

"Empati". Kata itu terasa berat sekaligus sederhana. Ia sendiri pernah jadi sales kartu internet selama enam bulan. Berdiri di bawah panas, menawarkan produk ke orang-orang yang bahkan tak mau menoleh. Ia ingat bagaimana rasanya ditolak tanpa kata, atau dipandang seolah tak terlihat. Namun dari situ ia belajar membaca wajah, nada suara, bahkan gerakan tangan kecil yang menandakan minat atau penolakan.

Ia menatap layar lagi.

Mungkin itu yang dicari, pikirnya. Pengalaman mentah. Sentuhan langsung dengan manusia tanpa kamera, tanpa skrip, tanpa pencahayaan bagus.

Firman tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya