Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #48

Hubungan antar Manusia yang Kompleks

Firman duduk agak menyamping di bangku kayu dekat air, gelas kopi plastik bertuliskan spidol hitam sudah tinggal setengah. Angin Situ Gede pelan-pelan membawa bau air tawar dan dedaunan basah. Di depannya, tiga orang bapak-bapak fokus menatap pelampung pancing mereka, seolah dunia di luar lingkaran kecil itu tidak penting.

Kadang hidup memang sesederhana menunggu sesuatu bergerak, pikir Firman.

Tangannya otomatis menggulir X.

Linimasa dipenuhi obrolan fandom. Topik yang akhir-akhir ini sering lewat karena algoritma tahu dia suka membaca drama sosial ringan. Salah satu tweet panjang membahas idol group dan budaya fanservice. Firman membaca pelan, mengunyah setiap opini seperti mengunyah kacang.

Tweet itu membandingkan pengpengalaman service idol lokal dengan idol Jepang, menyinggung tentang Theater mingguan, video call berbayar, sampai event foto tahunan. Nama JKT48 muncul berulang di balasan. Sebagian penggemar memuji, sebagian lainnya mengeluhkan tingkah manajemen.

Firman tersenyum tipis.

Ia memangbukan penggemar garis keras, tapi cukup lama mengamati dinamika idol culture. Yang menarik bukan sekadar pertunjukannya, melainkan hubungan parasosial yang terbentuk. Seorang penggemar merasa dekat, hampir seperti keluarga. Di situlah tweet berikutnya muncul:

“Kenapa idol group sekarang banyak punya orang tua asuh? Itu buat kontrol, perlindungan, atau branding?”

Firman mengangkat alis.

Konsep wali atau figur pendamping sebenarnya bukan hal baru. Di industri hiburan—apalagi untuk debutan—keberadaan orang dewasa yang ditunjuk bisa menjadi semacam sistem pengaman. Namun di mata fandom, semuanya bisa dibaca sebagai drama, strategi, bahkan teori konspirasi kecil.

Ia membaca thread lanjutannya. Beberapa pengguna menjelaskan bahwa figur wali membantu koordinasi jadwal, keamanan, bahkan kesehatan mental member. Namun ada beberapa lainnya skeptis. Mungkin mereka takut ada eksploitasi, atau sekadar gimmick untuk membangun narasi tentang lingkungan yang penuh dengan nuansa kekeluargaan.

Firman menghela napas pelan.

“Internet memang suka membelah segalanya jadi hitam-putih,” gumamnya.

Pelampung salah satu pemancing tiba-tiba tenggelam. Si bapak refleks menarik joran. Ternyata kosong. Ia tertawa kecil, disambut komentar santai temannya. Firman ikut tersenyum.

Begitu juga fandom, pikirnya. Banyak reaksi besar, tapi sering kali hasilnya cuma gelombang sesaat.

Linimasa berlanjut ke tweet lain yang membandingkan manajemen idol dengan industri game. Referensi mereka ke pengembang fiksi yang baru bergerak setelah ada saingan. Yang terasa seperti sindiran universal di pikiran Firman. Bagaimana sebuah organisasi sering nyaman sampai kompetisi harus memaksakan perubahan.

Firman menyandarkan punggung.

Persaingan memang bahan bakar evolusi manusia. Yang bukan cuma untuk perusahaan, tapi manusia. Tanpa dorongan eksternal, orang cenderung stagnan. Sama seperti dirinya yang baru mencoba hal baru setelah melihat orang lain berani melangkah.

Lihat selengkapnya