Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #49

Saat Firman Istirahat Bersepeda

Firman berhenti di bawah pohon flamboyan yang rindangnya cukup menahan matahari siang. Napasnya masih agak berat setelah tanjakan terakhir. Ia menurunkan sepeda dengan hati-hati, menyandarkannya ke batang pohon, lalu duduk di bangku beton yang masih terasa hangat.

Botol minumnya dibuka. Tegukan pertama panjang. Air putih itu terasa seperti reset kecil buat tubuhnya.

“Ternyata Tuhan masih ada,” gumamnya pelan.

Refleks berikutnya. Ia mengeluarkan ponsel, membuka Strava lebih dulu. Jempolnya bergerak cepat. Save activity. Statistiknya langsung muncul. Ada jarak tempuh, elevasi, detak jantung, hingga waktu istirahat. Firman tersenyum kecil. Ada kepuasan sederhana melihat angka-angka tersebut.

Takarirnya singkat: “Recovery ride. Pelan-pelannya saja dulu, yang penting konsisten. Pelan-pelan gula darah turun, bisa kurus juga”

Terunggah.

Setelah itu, barulah ia membuka Threads. Linimasa langsung bergerak cepat. Ada meme nakal, curhatan emak-emak, hingga opini panas dari orang-orang yang sering dikira sebagai buzzer. Lalu matanya berhenti pada satu postingan yang familier. Dari pendeta yang tadi subuh ia baca. Ketikan si pendeta itu sederhana, dan berbunyi:

"Hati yang bersalah sering merasa dikejar, bahkan saat tidak ada siapa pun di belakangnya."

Firman membaca ulang. Pelan-pelan saja, sambil minum air mineral yang ia bawa dari rumah.

Menggulir sedikit, agar jelas apa yang dimaksud si pendeta.

“Orang fasik lari walaupun tidak ada yang mengejar, tetapi orang benar merasa aman seperti singa muda.”

— Amsal 28:1."

Ia bersandar, mengembuskan napas. Kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di kepalanya.

Lihat selengkapnya