Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #50

Cara Akrab dengan Artis

"Aku cuma penasaran aja," ucap Firman, yang lebih terdengar sebagai keluhan. Ia lalu meminum matcha latte-nya. "Gimana sih biar akrab sama artis? Biar benar-benar bisa jadi... yah, seenggaknya, jadi bestie-nya dia, itu gimana yah, Mas?"

Baceng tertawa. Ia meletakkan dulu pancingannya, lalu menjawab, "Ini masih ada hubungannya ke ex member itu bukan, sih? Si Gloria atau Clarissa itu?"

Firman mengangguk malu-malu dan berkata, "K-kurang lebih gitu, Mas Baceng. Dua-duanya malah."

Baceng memukul punggung Firman sebagai tanda bahwa dirinya memang bersahaja. Jawabnya, "Yah, mau nggak mau kamu, Man, harus terjun ke dunia fandom si artis itu dulu. Yang dalam hal ini, kamu harus sering ikut aktivitas fandom-nya. Kalau ada gathering, rajin datang. Contohnya nih, kan Clarissa itu lebih dikenal sebagai penyanyi, yah, kamu... kalau dia keluarin single baru, coba sering dengerin lagunya, kasih review bagus kamu, coba cari tahu kirim gift ke dia gimana... gitu, sih. Pelan-pelan aja, nanti lama-lama, kalau dia udah familier sama wajah kamu, bisa jadi dia nggak akan anggap kamu sebagai fans dia lagi. More than just a fans, Man."

Firman menelan air liur, membalas, "Wah, repot juga, Mas. Sementara aku harus pusing cari duit dan kesempatan yang lebih layak lagi. Padahal manusia biasa juga, baik si Gloria sama Clarissa itu."

"Karena mereka sudah famous, Man," ralat Baceng. "Yang kenal dia itu ratusan mungkin. Tapi yang dia merasa akrab... paling cuma beberapa. Kamu harus usaha lebih agar Clarissa atau Gloria benar-benar anggap kamu bestie-nya dia. Caranya... yah, itu dia. Terus kasih dukungan kamu sebagai... minimal sebagai fans-nya dia."

Angin sore dari danau bergerak pelan, membawa bau air dan tanah basah. Firman menatap riak kecil di permukaan danau sambil memutar gelas matcha latte-nya yang tinggal setengah. Kata-kata Baceng masih berputar di kepalanya seperti lagu yang diputar ulang tanpa henti.

More than just a fans…”

Kalimat itu terasa berat sekaligus absurd.

“Mas,” kata Firman pelan, “emang bisa ya… dari fans jadi temen beneran? Maksudku, bukan yang… halu gitu. Pengen deh, bisa temenan akrab sama artis.”

Baceng menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit menatap garis pancing.

“Bisa,” jawab Baceng santai. “Tapi kamu harus ngerti batasnya dulu. Itu yang paling penting.”

Firman mengernyitkan dahi, bertanya, “Batas yang gimana?”

Fans itu yang selalu dukung aktivitas keartisannya. Sementara teman itu yang sering hadir, bahkan di luar kegiatan keartisannya. Tapi jangan sampai kamu merasa berhak atas hidup mereka. Kadang batas antara fans dan teman itu tipis banget, Man.”

Kalimat itu seperti menekan tombol pause di otak Firman. Ia sadar selama ini pikirannya sering berlari terlalu jauh. Yang sudah membayangkan skenario, percakapan, bahkan hubungan yang belum tentu nyata. Semuanya terasa hidup di kepalanya, tapi belum tentu di dunia luar kepalanya.

“Kadang aku ngerasa,” Firman mengaku, “pengen deket sama artis... karena mereka artis, terus aku pengen manfaatin popularitasnya buat kepentingan aku. Kayak fans-fans lainnya. Aku nggak pengen gitu. Aku lebih pengen... bisa akrab beneran. More than a fans."

Lihat selengkapnya