Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #53

Sana dan Adnan di Zenica

Firman membaca tulisan panjang itu perlahan, sendok mi berhenti di udara beberapa detik. Kuahnya masih mengepul, aroma bawang goreng dan cabai menyentuh hidungnya, tetapi pikirannya sudah melayang jauh ke Zenica, Bosnia. Antara dua orang asing bernama Sana dan Adnan yang justru saling menemukan diri mereka sendiri dalam kebohongan.

Di luar, langit sore mulai berubah warna. Oranye lembut bercampur ungu tipis. Suara anak-anak kecil berlari terdengar dari gang depan. Beberapa remaja melintas dengan motor pelan-pelan, knalpotnya sengaja ditahan agar tidak terlalu bising. Orang-orang sedang asyik ngabuburit. Yang menunggu waktu berbuka dengan cara masing-masing. Ada yang jogging kecil, ada yang duduk di tepi jalan sambil tertawa, ada yang sibuk berburu takjil.

Firman meniup mi di sendoknya. Hangat, sederhana, dan nyata.

Ia kembali membaca bagian tentang echad. Kesatuan yang utuh. Bukan sekadar tinggal serumah.

“Hati yang kosong di dunia nyata…” gumamnya pelan.

Grup WhatsApp itu memang sering dipenuhi tulisan reflektif. Kadang renungan rohani, kadang analisis psikologi populer, kadang debat kecil yang melebar. Tapi tulisan ini berbeda. Tidak menggurui. Tidak marah. Hanya seperti cermin yang diletakkan tepat di depan wajah.

Firman menyandarkan punggungnya ke kursi plastik. Kipas angin berputar pelan di atas, bunyinya berderik kecil. Di luar jendela, ia melihat dua orang pasangan muda duduk di atas motor, tertawa sambil berbagi minuman dalam satu botol. Sederhana. Mungkin mereka belum menikah. Mungkin masih pacaran. Namun ada sesuatu tentang kebersamaan itu yang terasa jujur.

Ia kembali membaca bagian tentang idealized self-presentation. Tentang bagaimana orang menjadi versi terbaik dirinya di dunia maya. Tanpa beban. Tanpa konflik. Tanpa sejarah luka.

Ia tersenyum miris.

Bukankah itu yang sering terjadi?

Di Instagram, orang terlihat produktif, bahagia, penuh pencapaian. Di Threads, orang terlihat bijak dan reflektif. Di WhatsApp, orang bisa terlihat peduli dan perhatian. Tapi di rumah? Di ruang tamu? Di meja makan?

Sendoknya kembali bergerak. Ia mengunyah pelan.

Firman teringat beberapa percakapan lama. Bukan tentang perselingkuhan. Bukan tentang kebohongan besar. Namun tentang jarak-jarak kecil yang dibiarkan tumbuh. Tentang pesan yang dibalas singkat. Tentang “nanti ya” yang terlalu sering diucapkan. Tentang obrolan yang ditunda karena terlalu lelah.

Tulisan itu mengatakan, “Masalahnya bukan kekurangan kapasitas untuk mencintai. Masalahnya adalah tidak ada ruang aman untuk mengekspresikan cinta itu dalam realitas.”

Ia menatap layar ponselnya lebih lama.

Ruang aman.

Berapa banyak relasi yang sebenarnya tidak hancur karena kebencian, tetapi karena kelelahan? Karena dua orang yang sama-sama sibuk mempertahankan ego? Karena tidak ada yang mau memulai percakapan jujur?

Di luar, suara azan magrib dari masjid ujung jalan terdengar samar. Belum waktu berbuka, hanya pengumuman kegiatan sore. Orang-orang mulai bergerak lebih cepat. Penjual gorengan menata dagangan. Anak-anak kecil dipanggil pulang oleh ibunya.

Firman menggulir ke bawah. Ada beberapa anggota grup yang sudah memberi komentar.

“Amin.”

Lihat selengkapnya