Clarissa & Gloria

Nuel Lubis
Chapter #54

Mungkin Radar Frekuensinya yang Harus Diperbaharui

Sore itu Firman menghentikan langkahnya di sebuah pasar modern bernama Modern Town Market. Bangunannya tidak terlalu besar, tapi bersih dan sangat healing. Kaca-kaca etalase memantulkan cahaya senja yang mulai condong ke keemasan. Orang-orang keluar masuk membawa kantong belanja, beberapa anak kecil merengek minta es krim, dan di sudut dekat pintu otomatis ada gerobak kecil yang menjual jajanan tradisional.

Aroma wijen sangrai menarik perhatiannya.

“Onde-ondenya masih hangat, Bang,” kata si penjual.

Firman mengangguk, membeli dua, lalu berjalan ke selasar toko. Ia duduk di bangku panjang yang menghadap area parkir. Di kejauhan terdengar suara troli didorong, pintu mobil dibuka-tutup, dan musik pop pelan dari dalam market.

Ia menggigit onde-onde pertama. Kulitnya renyah tipis, bagian dalamnya lembut dan manis. Gula halus menempel di ujung jarinya. Ia menjilatnya pelan sambil mengeluarkan ponsel.

Ia beralih ke Facebook. Sudah lama ia tidak benar-benar menggulir dengan tenang. Biasanya hanya lewat. Namun sore ini entah mengapa ia ingin membaca-baca beberapa status Facebook pengguna lainnya.

Status pertama muncul dari Kristin Siallagan, yang seorang penulis buku belajar bahasa Inggris yang tinggal di Selandia Baru. Firman tahu namanya dari beberapa kali melihat promosi bukunya di media sosial. Ia sering membagikan tips cara belajar grammar, cerita tentang kehidupan diaspora di luar Indonesia, dan sesekali kisah rumah tangganya dengan sang suami, Shawn Grock.

Namun kali ini tulisannya bernada berbeda. Kristin menulis panjang, yang bercampur antara bahasa Batak dan Indonesia. Ada nada kesal, ada sindiran, ada keberanian yang hampir meledak dari setiap kalimat. Tentang seorang namboru Batak yang mengomentari hidupnya. Tentang tuduhan mandul dan impoten ke suaminya, Shawn. Tentang cara mencari jodoh yang sesuai kata hati mertua. Tentang aplikasi kencan. Tentang zaman batu dan martandang.

Firman mengunyah pelan sambil coba mencerna baik-baik. Lalu ia membayangkan Kristin menulis itu mungkin dengan emosi yang masih panas. Mungkin habis membaca komentar yang menyakitkan. Mungkin habis menahan diri terlalu lama.

Di selasar itu, angin sore berembus membawa sedikit debu dari parkiran. Seorang ibu lewat sambil menggandeng anaknya yang memegang balon karakter kartun. Dunia nyata berjalan biasa saja, tapi di layar kecil di tangannya, dunia terasa lebih tajam.

“Suami dapat dari internet emangnya kenapa?” tulis Kristin. "Aish... namboru itu mulutnya itu, cem tak pernah disekolahkan saja!?"

Firman tersenyum kecil. Zaman memang berubah. Dulu orang bertemu lewat keluarga, lewat gereja, lewat teman. Sekarang kisah cinta bisa lewat aplikasi, algoritma, dan... tinggal swipe kanan, sudah jadian. Namun yang tidak berubah adalah cara orang menghakimi.

Ia menggulir komentar di bawahnya. Ada yang mendukung. Ada yang tertawa. Ada yang ikut menandai teman. Ada juga yang menasihati dengan nada setengah menggurui.

Firman menggigit onde-onde kedua. Di saat itu, ia teringat tulisan tentang Sana dan Adnan yang ia baca sebelumnya. Tentang dunia maya yang bisa menjadi ruang pelarian. Tentang persona yang di-filter. Tentang cinta yang dicari di tempat yang salah.

Sekarang, di hadapannya, ada contoh lain. Tentang bagaimana dunia maya juga bisa menjadi medan perang. Satu komentar bisa melukai harga diri. Satu kalimat lainnya bisa membuat seseorang mempertanyakan seluruh hidupnya.

Kristin mungkin hanya ingin membela diri. Namun di saat yang sama, ia juga membuka aib orang lain

“....tandai mukanya, jangan sampai namboru itu jadi mertua kalian.”

Lihat selengkapnya