"Oke, kamu sama yang lainnya bisa jalan-jalan dulu, Glo," ujar sutradara webseries berjudul "Bohong Putih". "Nge-mall dulu bareng Kiky dan lainnya, biar chemistry-nya bisa makin dapet jadi istrinya Kiky."
Di webseries tersebut, Gloria memerankan tokoh bernama Syifa, yang merupakan istri dari Hardiman, yang diperankan oleh aktor muda yang sebaya dengan Gloria, yang bernama Kiky. Di webseries tersebut, Hardiman dan Syifa merupakan pasangan suami istri yang belum ada setahun menikah.
Itulah kenapa Gloria, Kiky, Adel, dan Putri berjalan-jalan santai di Bandung Indah Plaza alias BIP. Untuk sekadar membuat chemistry antar mereka semakin bagus. Kadang jika chemistry berhasil terbangun dengan baik, orang awam saja bisa menyangka ada rasa di antara keduanya. Hal itu bukan barang baru di dunia akting. Chemistry yang terlampau baik, itu bisa menciptakan fenomena yang lainnya. Hal itu adalah cinta lokasi atau cinlok. Meskipun sebenarnya tidak semuanya berakhir menjadi cinlok.
Ada juga aktor atau aktris yang tetap profesional. Chemistry hanya ada di lingkungan pekerjaan. Begitu selesai syuting, antara dua pemain berubah menjadi pribadi masing-masing. Jika salah satu sudah memiliki pasangan, dan pasangannya bukan dari kalangan artis, yah, tetap seperti itu. Tidak ada yang namanya cinlok. Bahkan masing-masing tetap setia dengan status hubungan masing-masing.
Gloria sebenarnya sudah terbiasa dengan istilah cinlok. Sejak awal terjun ke dunia akting, ia tahu batas antara peran dan perasaan sering kali tampak tipis di mata penonton. Apalagi jika perannya adalah seorang istri yang penuh adegan intim yang bukan dalam arti fisik yang vulgar, tapi dalam arti emosional. Yang mana ada tatapan yang lama, dialog lirih sebelum tidur, lalu ada pertengkaran kecil yang diakhiri pelukan.
Sebagai Syifa, ia harus terlihat seperti perempuan yang benar-benar mencintai Hardiman. Sebagai Gloria, ia harus tetap menjadi dirinya sendiri, yang masih menunggu agar Firman segera menghampirinya. Segera melamar Gloria di dunia nyata.
Di Bandung Indah Plaza sore itu, mereka berjalan santai. Kiky di depan, bercanda tentang diskon sepatu. Adel dan Putri sibuk membandingkan tas di etalase. Gloria berjalan di samping Kiky, tertawa saat Kiky menirukan gaya sutradara mereka yang perfeksionis.
“Kalau kamu nanti adegan nangisnya kurang dapet, siap-siap di-take sepuluh kali,” canda Kiky.
Gloria menyenggol lengannya, menimpali, “Yang sering diulang kan adegan waktu kamu marah-marah. Aku capek pura-pura sabar.”
Mereka tertawa. Tawa yang ringan dan terlihat alami.
Beberapa pengunjung mal mulai melirik. Ada yang berbisik, ada yang tampak ragu, lalu ada yang memberanikan diri meminta foto. Gloria dan Kiky melayani dengan ramah. Dalam kamera ponsel orang-orang itu, mereka tampak seperti pasangan muda yang serasi. Padahal semuanya bagian dari pekerjaan.
Namun Gloria tidak memungkiri, membangun chemistry memang membutuhkan kedekatan. Mereka sering membaca naskah bersama di luar jadwal syuting. Kadang berdiskusi tentang latar belakang karakter. Mengapa Syifa bisa begitu sabar? Mengapa Hardiman mudah tersulut emosi? Apa yang membuat mereka tetap bertahan meski baru setahun menikah dan sudah diterpa masalah?
Diskusi-diskusi itu membuat Gloria dan Kiky semakin saling memahami. Saling memahami sebagai sesama artis.
Namun dunia luar jarang melihatnya sesederhana itu. Di media sosial, potongan adegan mereka sering dipotong ulang menjadi video romantis dengan lagu mellow. Kolom komentar dipenuhi doa agar mereka berjodoh di dunia nyata, meski nyatanya baik Gloria dan Kiky sebenarnya berbeda agama. Sebab Gloria itu Kristen, sementara Kiky adalah penganut Islam. Namun tetap saja ada warganet yang jahil. Bahkan ada yang terang-terangan menandai akun pribadi Gloria dengan kalimat, “Serasi banget, kak. Kenapa nggak jadian aja?”
Gloria membaca komentar-komentar itu dengan campuran perasaan. Ia mungkin terlihat lajang di mata beberapa orang. Meski sebenarnya ia masih menunggu pula seorang laki-laki berkacamata untuk segera mendatangi dan melamarnya. Bahkan beberapa kali iseng berkata bahwa hatinya sudah dimiliki seseorang, dan acap berkata bahwa sebenarnya dirinya sudah menjalin hubungan tanpa status yang LDR juga. Ia sering bercanda seperti itu kepada teman-temannya yang ia temui di kala senggang.
Akan tetapi ia pun tahu batas. Selain masih menghargai dan memandang Firman, Gloria tahu satu hal. Bahwa Kiky pun sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang bukan dari dunia hiburan. Mereka semua sepakat menjaga profesionalitas. Sama-sama menjaga agar kehidupan romansa masing-masing, yang di luar dunia akting, tidak makin berantakan. Itulah kenapa, selesai syuting, masing-masing kembali ke hidupnya.
Namun, di antara candaan dan obrolan ringan sore itu, Gloria sempat bertanya dalam hati, bagaimana kalau suatu hari perasaan itu benar-benar muncul.
Ia cepat-cepat menepisnya. Ia tahu, perasaan bisa tumbuh dari kebersamaan. Dari adegan-adegan yang menuntut kejujuran emosi. Dari tatapan yang terlalu lama. Dari pelukan yang terasa nyata. Namun ia juga tahu, menjadi aktris berarti mampu menghidupkan rasa tanpa harus memilikinya.
Bagaimanapun Gloria harus menjaga janjinya dengan seorang laki-laki berdarah Batak, yang bernama Firman. Ia yakin, di sana, Firman juga coba menjaga janjinya.
Baik Gloria dan Kiky keduanya berhenti di sebuah kafe kecil di dalam mal. Duduk melingkar. Membahas adegan esok hari yang menuntut pertengkaran hebat antara Hardiman dan Syifa. Sutradara ingin pertengkaran itu terasa realistis, tidak dibuat-buat.
“Kita harus bikin penonton percaya kalau mereka benar-benar suami istri,” kata Kiky serius.
Gloria mengangguk. “Berarti kita harus saling percaya dulu sebagai partner main.”
Kepercayaan. Itulah kuncinya. Chemistry bukan selalu tentang rasa suka. Kadang ia hanya tentang kenyamanan dan saling menghargai. Tentang tahu kapan harus mendukung, kapan harus memberi ruang. Apalagi, di dunia akting, garis antara pura-pura dan nyata memang tipis. Namun profesionalitas merupakan sesuatu yang menjaga agar garis itu tidak kabur.